{"id":29120,"date":"2023-11-06T12:46:24","date_gmt":"2023-11-06T12:46:24","guid":{"rendered":"https:\/\/swarakawanua.id\/?p=29120"},"modified":"2023-11-06T12:46:26","modified_gmt":"2023-11-06T12:46:26","slug":"kerakusan-mafia-tanah-jadi-pembunuh-berdarah-dingin","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/swarakawanua.id\/?p=29120","title":{"rendered":"Kerakusan Mafia Tanah Jadi &#8216;Pembunuh Berdarah Dingin&#8217;"},"content":{"rendered":"\n<p>Manado, Swarakawanua.id &#8211; Kerakusan bahkan tak mempedulikan Hak Asasi Manusia (HAM) seakan menjadi <em>&#8216;Pembunuh Berdarah Dingin&#8217; <\/em>bagi masyarakat Desa Sea yang ada di Jaga I hingga IV.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak puas dengan telah merusak sebagian Kawasan Lindung Hutan Mata Air Kolongan Desa Sea. Pihak Developer Griya Sea Lestari V yakni PT Bangun Minanga Lestari (BML) kian membuat masyarakat diempat jaga tersebut kian kekurangan air.<\/p>\n\n\n\n<p>Yah semakin hari dampak akan pengrusakan itu sudah terlihat. Melihat kondisi tersebut pemerhati lingkungan Henny Hampton Soetrisno kembali angakat bicara. Ia perihatin dengan kelestarian Kawasan Lindung Hutan Mata Air Kolongan apa lagi dampaknya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Satu kata untuk mereka &#8216;Rakus&#8217;. Demi meraup keuntungan hingga tak memperhatikan keberlangsungan hidup orang banyak. Tentunya dalang dari semuanya adalah mantan Hukum Tua Roy Sangian dengan gagah berani menjual aset Desa yang dititipkan oleh Tuhan,&#8221; sembur putri bungsu mantan Bupati Sangihe Talaud periode tahun 70an hingga 80an Kolonel inf Raden Hadi Soetrisno.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"178\" src=\"https:\/\/swarakawanua.id\/wp-content\/uploads\/2023\/11\/Picsart_23-11-06_20-43-12-407-300x178.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-29122\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Istri Michael Hampton mengatakan apa yang selama ini dikuatirkan sudah mulai terlihat. Dikatakannya, disumber mata air masyarakat saling bergantian untuk mendapatkan air dan takutnya hal akan menjadi perpecahan di tengah masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Jika hal itu benar-benar terjadi. Siap yang harus bertanggung jawab. Pihak PT BML atau mantan Hukum Tua Roy Sangian. Itu tidak mungkin yang ada dipikiran mereka hanyalah uang dan itu sudah terbukti,&#8221; ucapnya tegas.<\/p>\n\n\n\n<p>Henny menerangkan bukan hanya dia yang perihatin dengan apa yang dialami masyarakat Desa Sea di Jaga I hingga IV tetapi suaminya juga yang merupakan warga negara Inggris.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Suami saya katakan sumber mata air diseluruh dunia itu dilindungi. Dia juga sempat mempertanyakan kenapa di Desa Sea khususnya kawasan lindung malah di rusak,&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"178\" src=\"https:\/\/swarakawanua.id\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/IMG-20230917-WA0000-300x178.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-28333\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Ia pun meminta pemerintah dan Aparat Penegak Hukum (APH) untuk menseriusi akan masalah ini. Sebab, banyak masyarakat yang akan kekurangan air.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Bagaimana kehidupan kita tanpa air yang notabene adalah sumber kehidupan utama kita. Jadi, dengan tegas saya minta kepada pemerintah dan APH untuk memperhatikan akan hal ini. Karena sumber mata air masyarakat sudah mulai menyusut bahkan kering. Bagaiman keadaan masyarakat kedepannya,&#8221; tegas Henny yang juga adalah anak Layana Mokoginta salah satu pendiri Nyong dan Noni Sulut juga Perempuan pertama perwakilan Bolmong Raya yang duduk di DPRD Provinsi.(Mesakh)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manado, Swarakawanua.id &#8211; Kerakusan bahkan tak mempedulikan Hak Asasi Manusia (HAM) seakan <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/swarakawanua.id\/?p=29120\" title=\"Kerakusan Mafia Tanah Jadi &#8216;Pembunuh Berdarah Dingin&#8217;\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":29121,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[26,29],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-29120","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-manado","8":"category-minahasa"},"views":5686,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29120"}],"collection":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=29120"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29120\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":29123,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/29120\/revisions\/29123"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/29121"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=29120"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=29120"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=29120"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=29120"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}