{"id":37631,"date":"2025-08-28T12:46:00","date_gmt":"2025-08-28T12:46:00","guid":{"rendered":"https:\/\/swarakawanua.id\/?p=37631"},"modified":"2025-09-13T06:51:17","modified_gmt":"2025-09-13T06:51:17","slug":"pln-uid-sulutenggo-dorong-resiliensi-dan-keseimbangan-perempuan-di-tengah-tantangan-zaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/swarakawanua.id\/?p=37631","title":{"rendered":"PLN UID Sulutenggo Dorong Resiliensi dan Keseimbangan Perempuan di Tengah Tantangan Zaman"},"content":{"rendered":"\n<p>Swarakawanua.id, <strong>MANADO\u2013<\/strong>Dalam upaya mendukung pemberdayaan perempuan dan memperkuat peran strategis mereka di dunia kerja dan kehidupan sosial, PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Sulutenggo) kembali menggelar program Inspiring Srikandi sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Srikandi Movement 2025. Dengan tema \u201cStrong Women in the Modern Era: Maintaining Balance, Building Resilience\u201d, acara ini menghadirkan pembicara inspiratif, yaitu A. Fielia Litelnoni, M.Psi., Psikolog, serta diikuti oleh seluruh Srikandi PLN, termasuk karyawati, Tenaga Alih Daya (TAD) perempuan, dan anggota PIKK.<br><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"200\" src=\"https:\/\/radarmanadoonline.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250828-WA0043-300x200.jpg\" alt=\"\"><br>Mengawali kegiatan, Usman Bangun, General Manager PLN UID Sulutenggo, menyampaikan apresiasi mendalam terhadap inisiatif Srikandi PLN yang konsisten memberdayakan perempuan dari berbagai lini.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSrikandi bukan hanya simbol kekuatan, tapi juga refleksi dari ketangguhan, ketulusan, dan kecerdasan perempuan dalam menghadapi tantangan zaman. Di tengah perubahan yang begitu cepat, perempuan PLN telah membuktikan mampu hadir sebagai solusi, baik dalam lingkup pekerjaan maupun kehidupan sosial. Melalui program Inspiring Srikandi, kami ingin mendorong setiap perempuan di PLN agar terus tumbuh dan berdaya, bukan hanya sebagai profesional, tetapi juga sebagai agen perubahan di masyarakat,\u201d jelas Usman.\\<\/p>\n\n\n\n<p>Senada dengan itu, Priska Kawatu, selaku Srikandi Champion UID Sulutenggo, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi inspirasi, tetapi juga sebagai momentum reflektif untuk memperkuat peran perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMenjadi Srikandi adalah panggilan hati. Ini bukan soal jabatan atau posisi, tetapi soal komitmen untuk terus belajar, berbagi, dan membawa dampak positif. Di era modern, tantangan perempuan semakin kompleks, mulai dari tekanan profesional, tanggung jawab keluarga, hingga ekspektasi sosial yang terus berubah. Namun, di balik semua itu, perempuan Indonesia\u2014terutama di PLN\u2014terbukti mampu tampil kuat, adaptif, dan penuh semangat. Melalui acara ini, kami berharap semangat itu terus menyala,\u201d kata Priska.<br><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/radarmanadoonline.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/IMG-20250828-WA0044-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\"><br>Mengangkat dua topik utama, A. Fielia Litelnoni, M.Psi., Psikolog, memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana perempuan bisa tetap tangguh dan seimbang di tengah tekanan yang kerap datang dari berbagai arah.<\/p>\n\n\n\n<p>Menghadapi Tekanan Ganda: Karier, Keluarga, dan Harapan Sosial. Menurut Fielia, tantangan perempuan di era modern bukan hanya pada bagaimana menuntaskan pekerjaan, tetapi bagaimana mereka dapat menjalankan banyak peran secara selaras.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cTekanan ganda dari karier, keluarga, dan norma sosial bukan untuk dihindari, tapi perlu dikelola dengan bijak. Banyak perempuan merasa terjebak antara tanggung jawab di rumah dan tuntutan pekerjaan. Belum lagi, standar ideal dari media sosial menciptakan ekspektasi yang sering kali tidak realistis. Kunci utamanya adalah memahami bahwa keseimbangan bukan berarti membagi waktu sama rata, tetapi menyesuaikan dengan kebutuhan dan nilai-nilai hidup pribadi,\u201d jelas Fielia.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang kedua tentang Resiliensi Perempuan di Era Serba Cepat. Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya resiliensi\u2014bukan sekadar bertahan, tetapi kemampuan untuk bangkit dan berkembang dalam tekanan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPerempuan modern menjalankan banyak peran sekaligus. Mereka adalah profesional, ibu, pasangan, anak, dan juga bagian dari komunitas. Dalam peran majemuk ini, resiliensi menjadi bekal utama. Bukan hanya soal ketahanan mental, tapi juga kemampuan untuk menerima perubahan, belajar dari kegagalan, dan tetap menjaga identitas diri,\u201d tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Srikandi Movement merupakan inisiatif strategis dari Srikandi PLN yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup melalui pemberdayaan perempuan dan keterlibatan aktif dalam penyelesaian isu sosial serta lingkungan di masyarakat sekitar. Dalam semangat kolaboratif, program ini menjadi wadah bagi para perempuan PLN untuk saling menginspirasi dan memperluas kontribusi di luar tugas kedinasan.<\/p>\n\n\n\n<p>Acara yang dikemas secara hangat dan interaktif ini diakhiri dengan pembacaan pantun yang menggugah semangat para peserta:<br>Meniti jalan penuh tantangan,\u2028Tak gentar walau badai menghadang.\u2028Srikandi hadir jadi panutan,\u2028Mengubah dunia dengan gemilang.<\/p>\n\n\n\n<p>Langit cerah mentari bersinar,\u2028Burung terbang menari di pagi.\u2028Srikandi tangguh, hati pun tegar,\u2028Langkahnya nyala semangat sejati.<\/p>\n\n\n\n<p>Inspiring Srikandi 2025 bukan sekadar acara, tapi sebuah gerakan perubahan untuk mendorong perempuan untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi pelita yang menerangi sekitar. Srikandi PLN membuktikan bahwa perempuan memiliki kekuatan besar untuk menghadirkan perbedaan, hari ini dan masa depan. (***)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Swarakawanua.id, MANADO\u2013Dalam upaya mendukung pemberdayaan perempuan dan memperkuat peran strategis mereka di <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/swarakawanua.id\/?p=37631\" title=\"PLN UID Sulutenggo Dorong Resiliensi dan Keseimbangan Perempuan di Tengah Tantangan Zaman\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":37632,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[90],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-37631","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-pln"},"views":252,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37631"}],"collection":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=37631"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37631\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":37634,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/37631\/revisions\/37634"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/37632"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=37631"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=37631"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=37631"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=37631"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}