{"id":41210,"date":"2026-04-29T12:50:02","date_gmt":"2026-04-29T12:50:02","guid":{"rendered":"https:\/\/swarakawanua.id\/?p=41210"},"modified":"2026-04-29T12:50:03","modified_gmt":"2026-04-29T12:50:03","slug":"kadinkes-sulut-bahaya-temuan-bpk-ri-senilai-rp-2-8-m-pengadaan-obat-di-dinkes-diduga-mark-up","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/swarakawanua.id\/?p=41210","title":{"rendered":"Kadinkes Sulut Bahaya!\u00a0 Temuan BPK RI Senilai Rp 2.8 M, Pengadaan Obat di Dinkes\u00a0Diduga Mark Up"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Manado,Swarakawanua.ID-Laporan resmi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sulawesi Utara untuk periode Tahun Anggaran 2024 hingga Triwulan III 2025 mengungkapkan dugaan Mark up<br>Pengelolaan pengadaan obat di lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara dan lima rumah sakit besar, senilai Rp2.812.558.107.<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tak heran, jika temuan ini membuat Kadinkes Sulut sebagai pengguna anggaran bahaya karena rawan dipanggil APH.<\/p>\n\n\n\n<p>Dugaan mark up obat-obatan di Dinkes Sulut yang saat ini&nbsp; di bawah kepemimpinan R. Lolong mendapat tanggapan keras dari aktivis Sulut,&nbsp; Yusdistira Nursi.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Yudistira, temuan tersebut menunjukkan adanya perencanaan kebutuhan yang tidak akurat hingga menyebabkan kelebihan pembayaran negara mencapai Rp2.812.558.107,35.<\/p>\n\n\n\n<p>Dikatakannya, angka ini bukan sekadar kerugian finansial, tetapi menjadi indikator lemahnya sistem yang seharusnya menjamin kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p>Sorotan pun mengarah pada kualitas obat yang diterima fasilitas kesehatan. Persoalan ini dinilai tidak lagi bisa dipandang sebagai kesalahan administratif, melainkan sudah masuk dalam kategori yang mengancam keselamatan publik.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni bukan lagi sekadar administrasi. Ketika distribusi obat tidak memenuhi standar CDOB, maka yang dipertaruhkan adalah keselamatan pasien,\u201d tegas Yudistira.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, praktik distribusi yang tidak sesuai standar mencerminkan kelalaian serius.<\/p>\n\n\n\n<p>Obat yang seharusnya menyembuhkan justru berpotensi mengalami penurunan mutu, bahkan menjadi tidak layak konsumsi sebelum digunakan pasien.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks pelayanan kesehatan, kondisi ini dinilai sebagai ancaman nyata. Risiko yang muncul tidak hanya berdampak pada efektivitas pengobatan, tetapi juga bisa memperburuk kondisi pasien.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, Yudistira menyoroti adanya pola masalah dalam tata kelola.<\/p>\n\n\n\n<p>Perencanaan yang melampaui kebutuhan riil, metode pengadaan yang tidak sesuai prosedur, serta keterlibatan penyedia yang tidak memenuhi standar, menunjukkan adanya celah sistemik yang berulang.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni bukan sekadar celah, ini sudah pola. Kalau dibiarkan, akan terus menggerogoti sistem dan merugikan masyarakat,\u201d ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia pun mendesak langkah korektif yang tegas dan menyeluruh, mulai dari evaluasi total sistem perencanaan kebutuhan obat, penertiban mekanisme pengadaan, hingga penegakan aturan terhadap penyedia yang melanggar.(Danz*).<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manado,Swarakawanua.ID-Laporan resmi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Perwakilan Sulawesi Utara untuk periode Tahun <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/swarakawanua.id\/?p=41210\" title=\"Kadinkes Sulut Bahaya!\u00a0 Temuan BPK RI Senilai Rp 2.8 M, Pengadaan Obat di Dinkes\u00a0Diduga Mark Up\" itemprop=\"url\"><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":41211,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[19],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":{"0":"post-41210","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-pemerintahan"},"views":67,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41210"}],"collection":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=41210"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41210\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":41212,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/41210\/revisions\/41212"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/41211"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=41210"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=41210"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=41210"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/swarakawanua.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fnewstopic&post=41210"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}