PLN Percepat 12 Titik Pembangkit EBT Baru

Palu,Swarakawsnua.id-PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (UID Suluttenggo) berkolaborasi dengan PLN Unit Induk Penyaluran Pusat Pengatur Beban (UIP3B) Sulawesi dan PLN Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi menyiapkan pembangunan pembangkit Energi Baru Terbarukan (EBT) baru sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021-2030. Dalam langkah ini, PLN menyiapkan pembangunan 12 titik pembangkit listrik EBT baru dengan total kapasitas pembangkit mencapai 396 Megawatt (MW).

Ari Dartomo selaku General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (UID Suluttenggo), mengatakan bahwa dengan pembangunan 12 titik pembangkit EBT baru di Provinsi Sulawesi Tengah ini menjadi bukti nyata komitmen PT PLN (Persero) dalam mendorong transisi menuju energi bersih dan program Nett Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.

Megahmark

“PLN berkomitmen penuh untuk terus mendukung Transformasi PLN dan Transisi Energi di mana salah satunya rencana pembangunan transmisi untuk mengalirkan energi hijau,” kata Dartomo.

Adapun 12 belas titik tersebut akan menambah total daya sebesar 396 Megawatt (MW) dengan rincian PLTMG Luwuk 40 MW (2023), PLTA Poso Peaker (2021),PLTM Tomata 10 MW (operasi 2022), PLTM Karo Kabalo 2,2 MW (operasi 2022), PLTU Palu 3 2 X 30 MW (2023), PLTM Koro Yaentu 10 MW (2024), PLTM Sulbagsel tersebar 7,4 MW (2024), PLTM Buleleng 1,2 MW (2024), PLTM Biak I 2 MW (2025), PLTM Biak II 1 MW (2025), PLTM Biak III 1 MW (2025) dan PLTM Halulai 1,2 MW (2028).

Hal tersebut disampaikan oleh Team Leader Mapping Data Jaringan dan Pelanggan PLN Palu Yusmar. Dirinya menjelaskan, PLN komitmen menuju carbon netral.Market sise utility di 2060 adalah 1.800 Terra Watt Hour (TWh), saat ini produksi listri adalah 300 TWh, ditambah luncuran 120 TWh dari program 35 GW, sehingga ada ruang 1.380 TWh, untuk penambahan kapasitas pembangkit EBT.

“Porsi kapasitas PLTU di turunkan sejak 2020, upaya retirement pembangkit fosil dimulai 2030 dan secara signifikan turun jumlahnya pada 2040 mengikuti selesainya kontrak pembangkit tersebut,” ungkapnya saat menjadi narasumber dialog Pengembangan Energi Baru Terbarukan Festival Media ke-2 Hijau 2023 di Taman Gor Palu, Senin (11/12).

Ia juga menyampaikan bahwa, pembangkit nuklir masuk pada 2040, untuk menjaga keandalan sistem seiring perkembangan teknologi nuklir semakin aman.

Phase out seluruh pembangkit PLTU batu bara pada 2056 karena sudah tergantikan oleh EBT. Sementara pengembangan pembangkit EBT mengalami peningkatan besar-besaran mulai 2028 dikarenakan kemajuan teknologi baterai semakin murah,” katanya.

Ia menambahkan, kemudian mengalami kenaikan secara eksponensial mulai 2040, dan pada 2045 porsi EBT sudah mendominasi total pembangkit.

“Dekade berikutnya seluruh pembangkit listrik di Indonesia berasal dari EBT. Sementara rasio elektrifikasi sampai dengan Oktober 2023 ujar dia, dengan jumlah rumah tangga 813.026, rumah tangga berlistrik total 812.700 atau rasio elektrifikasinya mencapai 99,96 persen,” pungkasnya.

PLN terus meningkatkan pelayanan kepada pelanggan, dan terus membuktikan peran strategisnya dalam mendukung perkembangan ekonomi daerah serta berkomitmen penuh pada transmisi energi hijau. PLN juga berupaya meningkatkan kecepatan layanan bagi seluruh pelanggan dengan dengan menghadirkan aplikasi PLN Mobile sebagai solusi one stop service yang dapat diunduh secara gratis dari Play Store dan App Store. (Damz*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *