Sidang Tiga Tersangka Kasus Tambang Liar di Ratatotok Memasuki Babak Baru

Mitra swarakawanua.id- Sidang kasus dugaan penambangan emas ilegal melibatkan tiga terdakwa Arny Kumulontang (AK), Donal Pakuku (DP) dan Sie You Ho (SYH) dengan PT.Bangkit Limpoga Jaya, Senin (18/9/2023) memasuki babak baru.

Sidang kali ini ialah pembacaan putusan sela untuk tersangka Arni, dilanjutkan dengan pembuktian dari JPU, kemudian pemeriksaan saksi, yang dilaksanakan di Pengadilan Negeri Tondano, di ruang sidang Muhammad Hatta Ali.

Megahmark

Sidang kasus dugaan penambangan emas ilegal ini telah berlangsung empat kali. Mereka menjadi pesakitan setelah dilaporkan oleh PT.Bangkit Limpoga Jaya ke Bareskrim Polri karena melakukan penambangan emas ilegal di lokasi PT Bangkit Limpoga Jaya, Desa Ratatotok, Kabupaten Minahasa Tenggara, Provinsi Sulawesi Utara.

Persidangan yang digelar secara terbuka, diketuai oleh Erenst Jannes Ulaen selaku hakim ketua, didampingi Nur Dewi Sundari dan Dominggus Adrian Poturuhu selaku hakim anggota.

Dalam persidangan ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi dari salah satu Direksi BLJ yaitu Noerhalim.

Dalam keterangan saksi terungkap bahwa terdakwa
Arny secara diam-diam melakukan penambangan ilegal tanpa sepengetahuan pihak perusahaan.

“Majelis hakim yang mulia, perusahaan PT. BLJ sampai sekarang belum melakukan aktivitas pertambangan emas di Desa Ratatotok, Minahasa Tenggara dikarenakan masih ada beberapa persyaratan admistrasi masih dalam proses pengurusan,” ujar Noerhalim saat bersaksi di persidangan.

Dia juga menjelaskan bahwa ada informasi dari karyawan nya di lokasi perusahaan telah dilakukan aktivitas pertambangan secara ilegal oleh terdakwa Arny Christian Kumulontang menggunakan alat berat.

“Setelah dilakukan investigasi oleh tim, ternyata benar terdakwa Arny Kumulontang secara diam-diam melakukan aktivitas pertambangan ilegal di lokasi perusahaan. Kami juga temukan di lokasi 8 unit alat berat eskafator sebagai barang bukti,” bebernya.

Setelah itu, PT.BLJ kemudian memberikan kuasa kepada nya untuk melaporkan terdakwa Arny dan kawan-kawan ke Polisi.

“Kami memberikan kuasa kepada tim penasehat Hukum (PH) Duke Arie Widagdo kemudian langsung melaporkan perbuatan terdakwa Arny ke Bareskrim Mabes Polri,” lanjutnya.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum Wiwin Tui ketika diwawancarai awak media mengatakan agenda sidang kali ini diawali dengan pembacaan putusan sela dari tersangka Arny, yang pada akhirnya dilanjutkan ke pemeriksaan saksi karena eksepsi dari kuasa hukum Arny ditolak,” ujarnya.

Ia menambahkan agenda sidang pemeriksaan saksi kaki ini hanya bisa memeriksa satu saksi, dan sidang akan dilanjutkan pada Selasa (18/9/2023) masih dengan agenda pemeriksaan saksi.

Dalam perkara ini, ketiga terdakwa diancam pidana dalam pasal 158 junto pasal 35 undang-undang nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas undang-undang nomor 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batubara dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara dan denda 100 milyar rupiah.

Untuk diketahui, kronologi perkara tersebut bermula dari aksi Arny Christian Kumulontang selaku Komisaris PT.Bangkit Limpoga Jaya pada tahun 2020 menyewakan ke orang lain lahan milik perusahaan PT. Bangkit Limpoga Jaya (BLJ) kepada dua tersangka Donal Pakuku dan Sie You Ho kemudian melakukan aktivitas penambangan liar di areal perusahaan secara membabi buta hingga merusak kawasan.

Kemudian pihak perusahaan melaporkan kasus ini ke Bareskrim Polri pada tanggal 4 Juli 2022, kemudian pada 19 Desember 2022 ketiga tersangka ini dinaikan statusnya sebagai tersangka dan pada tanggal 15 Agustus 2023 ketiga tersangka tersebut diserahkan oleh tim Bareskrim Polri dan Kejagung RI ke Kejaksaan Negeri Minahasa Selatan dan mulai menjalani sidang perdana pada 30 Agustus 2023 dengan agenda pembacaan dakwaan.(Echa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *