Caption: Anggota Komisi II DPRD Manado, Reynold Wuisan. (*).
Manado, Swarakawanua.id-Pelaksanaan proyek revitalisasi Pasar Bersehati senilai Rp 58 miliar bakal berakhir pada tanggal 30 Mei 2022 sesuai kontrak kerja. Namun begitu, realisasi proyek masih diangka 70 persen.
Sementara di satu sisi, hampir 70 persen pedagang yang direlokasi akibat revitalisasi Pasar Bersehati menjerit karena pendapatan sangat-sangat menurun. Bahkan para pedagang mengaku terancam gulung tikar alias bangkrut akibat relokasi ke tempat yang tak layak.
Anggota Komisi II DPRD Manado Reynold Wuisan mengatakan, menurut warga dan pedagang sebagaimana informasi yang diperoleh mereka bahwa pekerjaan Pasar Bersehati mangkrak.

“Senin 9 Mei lalu, saya di undang asosiasi pedagang dan beberapa teman media melihat progress pembangunan yang ternyata jauh dari ekspetasi kami. Akibatnya sekarang dari laporan sudah 70 persen pedagang kolaps, selain daya beli masyarakat kurang akibat relokasi yang terkesan tidak proposional sehingga pedagang di bagian dalam sulit terjangkau oleh pembeli karena akses semerawut dan banyak jualan rusak dan merugi”
Jelas Wuisan di tuangan Komisi II DPRD Manado, Rabu (11/5/2022).
Dirinya pun sangat menyayangkan jika masa pekerjaan harus ditambahkan 2 sampai 3 bulan ke depan.
“Saya memohon Pak Walikota dan Pak Wawali lewat Direksi PD. Pasar Manado, selama pembangun masih berproses, apakah bisa diberi keringanan kepada pedagang untuk retribusi dan sewa di kurangi atau ditiadakan, kajian humanis bagi mereka pelaku ekonomi tradisional demi memenuhi kebutuhan pangan warga” ungkap Ketua DPD Hanura Sulawesi Utara ini.
Mengenai proyek yang terkesan lambat dan tidak signifikan, menurut Wuisan ada yang aneh.

“Kami lihat hanya make up besi tua kemudian di las dan di cat, hampir semua bangunan yang lama direkondisi biasa. Terlepas dari fakta, silahkan masyarakat nilai sendiri. Kami sangat apresiasi Walikota bisa melobi anggaran PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional) dan ploting ke pasar Bersehati. Artinya dana masih bersifat pinjaman jangan sampai pekerjaan ini cuman ‘asal jadi asal untung’ dan ekspetasi Walikota dan kami warga untuk sebuah monumen dan legacy, simbol kebangkitan ekonomi kebanggan kami warga Manado akhirnya tidak terpenuhi apalagi dengan angka 58 miliar,”
tegas Wuisan.
“Kami berharap pihak kontraktor konada kendala apa? Solusi nya apa? Kan sayang ada konsekuensi kontraktornya TGR. Dalam fungsi pengawasan kami, tanggalnya sudah tinggal 2 minggu lagi. Per 30 Mei kontrak habis,” tutup Anggota Dewan Dapil Sario-Malalayang ini. (Danz*).
























