Manado,Swarakawanua.ID – Aksi biadap seorang pria yang teridentifikasi sebagai dokter dari Siloam Hospital bakal bermuara di ruang penyidik. Ayah korban Risky Monigir, yakni Hut Kamrin menyatakan sikap hukum keluarga terhadap perbuatan pelaku Dokter Wiliam.
“Esok, jam 10 siang, saya dan pengacara akan bawa anak saya Risky Monigir untuk melapor percobaan pembunuhan yang dilakukan pelaku di Polres Manado,” tegas Ketua PWI Manado itu.
Lanjut, Kamrin mengatakan, keluarga terpaksa menempuh jalur hukum karena pelaku Wiliam tidak pernah berusaha meminta maaf kepada keluarga selama 1×24 jam.
“Saya sebenarnya berharap dia minta maaf. Tapi sudah hampir 2×24 jam tidak ada niat meminta maaf. Karena itulah saya menyadari orang ini mungkin merasa dirinya sulit tersentuh hukum bahkan menantang saya. Saya tahu asal usulnya dan latar belakangnya. Tapi saya juga tahu bagaimana hukum harusnya bertindak. Nah sekarang saya yang maju ke ruang penyidik,” jelas Kamrin, Minggu malam.
Dia juga menyebut sudah berkonsultasi dengan kantor hukum Alfian Boham MH mengenai pasal yang harus dimasukan penyidik.
“Hasil koordinasi, sangat tepat ayah korban harus tempuh jalur hukum dengan pasal percobaan pembunuhan,” tegas dia.
Lebih lanjut Kamrin menegaskan, tindakan memidanakan Dokter Wiliam adalah satu bentuk keberanian orang kecil untuk mengakses perangkat hukum karena perbuatan orang dengan status sosial teratas.
” Di sosmed kan masyarakat pesimistis. Nah saya punya hak hukum untuk membuktikan bagaimana seharusnya aparat adil mengambil tindakan,” ucap Pemimpin Redaksi KOMENTAR.ID tersebut.
Diketahui, sebuah insiden percobaan pembunuhan nyaris menewaskan sekuriti Megamas, Manado pada kisaran pukul 02.30 WITA. Pria yang sempat menyebutkan nama dirinya Wiliam itu menunjukan tindakan di luar kesadaran dan berniat menewaskan sekuriti, lelaki berinisial RM alias Risky.
Dijelaskan Risky, insiden tersebut bermula ketika Wiliam menabrak trafficon dan tanda larangan dalam kawasan.
Lanjut Risky, saat itu pukul 02.00 WITA menuju 03.00 WITA. Dia menabrak fasilitas kawasan depan kantor Pemasaran. Kemudian saya membuntutinya. Dan kami berpapasan samping Cafe Mistik. Saya kemudian mencegat dan secara sopan meminta dia menurunkan kaca.
“Tiba-tiba dia bilang “Oh saya tabrak aset ya? Kemudian dia mundurkan mobilnya lalu hendak menabrak saya. Selanjutnya saya lari dan dia mengejar dari belakang memakai mobil,” jelas Risky, Sabtu pagi di kediaman ayahnya.
Selama memburu korban, Risky merasa hampir ditabrak.
“Dari Mistic terus ke belakang Gacoan tinggal depan Hotel Wish Prime. Karena dia begitu tekad menabrak, mobilnya secara brutal menabrak papan petunjuk lalu lintas. Saya terus melaju mencari rekan kerja karena hampir dia tabrak buta-buta dari belakang,” ujar Risky.
Selanjutnya dia mengarah ke pintu dan dicegat sejumlah sekuriti depan klenteng. Disitulah dia mengaku segala hal. Dalam kondisi mabuk berat dia bilang, kalian mau lapor ke Kapolres dan Kapolda ya. Saya ini adik Kapolda. Silahkan lapor,” tantang pelaku dengan nafas bau minuman keras.
Menurut korban Risky, pelaku mengenakan kaos Siloam. Dia kemudian sempat berniat ganti rugi tapi meminta harus ada surat resmi dalam form kantor.
“Cuma karyawan bagian admin sudah pulang,” tutur Risky.
Sesaat kemudian muncul kakak pelaku yang hendak menjemput pelaku .
“Menurut Leader kami, kakak pelaku datang dan minta-minta maaf ke sekuriti. Saya tida tahu karena saya sudah kembali ke area penjagaan, ” ujar Risky.
Risky menambahkan, saat ini mobil pelaku merk Denza tenaga listrik sudah ditinggalkan depan milenium.
” Tapi mungkin sudah diambil,” kata Risky.
Terpisah, ayah Risky M yang merupakan wartawan desk liputan Polda Sulut Tuan Kamrin mendesak manajemen Megamas harus segera menyeret pelaku biadap itu ke Polres Manado atau Polda Sulut.
“Ini tindakan biadap orang yang sesungguhnya harus menyelamatkan nyawa manusia. Dokter kan? Tolong manajemen proses hukum itu. Saya nggak pusing mau dia adik Kapolda kah, atau adik Presiden kah, namanya ada indikator membunuh harus proses hukum. Karena saya urus anak juga keluar duit besar. Kami rawat anak dengan kasih sayang, koq manusia dengan karakter seperti binatang liar seenak perut mau tabrak mati. Bangsat bukan?,” tegas Kamrin. (*)
























