Minut, Swarakwanua.id – Rumor adanya pungutan liar (pungli) oleh Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri I Dimembe ditepis langsung oleh Kepala Sekolah (Kepsek) Margaretha N Rumagit.
Rumagit merasa kecewa dengan adanya isu tersebut. Kata dia, selaku Kepsek SMP I Dimembe juga masyarakat Desa Tatelu memiliki komitmen membangun sekolah ini dengan momentum untuk generasi muda mendatang.
“Bukan dengan prinsip-prinsip seperti pikiran-pikiran negatif. Jadi, sebagai Kepsek kami akan membangun sekolah ini dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.
Selain itu ia menjelaskan terkait setiap siswa dibebankan uang senilai Rp 200.000 untuk perpisahan dan cinderamata. Rumanggit membantah adanya pungutan tersebut awal kejadian ini terjadi tahun 2022.

“Jadi disini kamu mengadakan rapat untuk Kelas IX a-h. Dalam rapat kami meminta dukungan orang tua ketika siswa/i akan menhadapi ujian baik praktek dan tulisan mulai dari kehadiran dan ada salah satu orang tua/wali yang bertanya apa yang akan diberikan mereka (orang tua siswa/i) kepada sekolah. Nah, disaat rapat tidak ada pembahasan soal pengumpulan uang Rp 200.000,” jelasnya tegas.
Untuk seragam atau atribut siswa/i yang telah melakukan pelunasan sejak Tahun 2021 namun sampai saat ini belum menerima. Rumagit menerangkan ini hanya masalah komunikasi saja. Jika ada siswa/i yang belum menerima seragam atau atribut bisa langsung menyampaikan hal tersebut kepadanya.
“Kalau memang hal demikian terjadi mari siswa/i yang sudah lunas uang seragam untuk datang kepada kami dan akan kami arahkan ke Kantin Kejujuran Sekolah. Tapi setahu saya selaku Kepala Sekolah ketika membayar siswa/i langsung mendapatkan seragam tidak ada disuruh balik besok,” kata guru yang telah mengabdi puluhan tahun di SMP 1 Dimembe ini.
“Nantinya kami juga akan menelusuri di kelas-kelas kalau ada siswa/i yang telah melunasi administrasi namun belum mendapatkan seragam,” lanjutnya.

Sedangkan untuk pengecatan dan hiasan kelas yang dibebankan kepada siswa/i. Rumagit membeberkan hal tersebut tejadi bulan Desember 2022 dimana komite dan orang tua murid memiliki komitmen untuk menopang pembangunan sekolah dengan memberikan tripleks, cat dan lain-lain.
“Jadi, karena hal itu maka disaat rapat pada awal Januari tahun 2022 kami memberitahukan untuk menghentikan hal tersebut karena telah beredar isu yang tidak enak di kalangan masyarakat bahkan wartawan. Saya memilih langka tersebut untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan terjadi lebih jauh lagi,” tukasnya.
(Mesakh)




























