Manado, Swarakawanua.id-Pemerintah Kota Cilegon tengah memperjuangkan status Syekh Mas Mohammad Arsyad Thawil al-Bantani al-Jawi (1851 – 19 Maret 1934) atau yang lebih dikenal sebagai Syekh Arsyad Thawil menjadi Pahlawan Nasional. Usulan tersebut diinisiasi Walikota Cilegon H. Helldy Agustian, SE, SH, MH. Saat ini, Pemkot Cilegon sedang membahas Naskah Akademik yang disusun Sejarahwan Banten, Prof Mufti Ali, PhD. Akademisi yang juga menjabat Wakil Rektor Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanudin Banten Bidang Akademik dan Kelembagaan sempat ditemui bersama Walikota Cilegon di Bilangan Boulvard II Manado, Jumat (28/4/20230 malam.
Walikota Cilegon Helldy Agustian mengatakan, pengusulan pahlawan nasional penting untuk mengingatkan anak bangsa tentang semangat dan nilai-nilai perjuangan yang ditanamkan Syekh Arsyad Thawil semasa hidup.

Walikota Cilegon Helldy Agilustian saat berziarah ke makam Syekh Mas Mohammad Arsyad Thawil al-Bantani al-Jawi pada tahun 2021 lalu, di Komo Luar, Kota Manado.
“Kita tidak boleh melupakan sejarah para pendahulu. Salah satunya Syekh Arsyad Thawil. Beliau adalah pejuang, tokoh besar sekaligus ulama yang menjadi tahanan politik dan diasingkan ke Manado karena kegigihan melawan penjajah. Pengusulan menjadi pahlawan nasional adalah bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada Syekh Arsyad Thawil yang sudah mewarnai sejarah perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan Belanda. Syekh Arsyad Thawil juga sangat berjasa menamamkan dan mengembangkan fiqih dan nilai-nilai keislaman yang moderat,” ungkap Helldy Agustian.
Ketua Tim Penyusun Naskah Akademik, Prof Mufti Ali, PhD menuturkan, pada masanya penjajah Belanda memiliki kebijakan terhadap para pemberontak. Aafa yang ditembak, ada yang dihukum penjara di Batavia, ada yang dibuang ke daerah sebagai tahanan politik.
“Syekh Arsyad Thawil adalah tanahan politik dibuang ke Manado. Ke tempat yang terasing pada masa Belanda,” singgung Mufti Ali.
Lanjut Mufti Ali, saat ini, tim sedang menggelar seminar Naskah Akademik. Secara prosedur, Mufti mengurai tata cara pengusulan gelar Pahlawan Nasional.

Masyarakat mengajukan usulan Calon Pahlawan Nasional (CPN) yang bersangkutan kepada Walikota. Kemudian, Walikota mengajukan usulan CPN kepada Gubernur melalui Dinas Sosial Provinsi setempat. Lantas, Gubernur menyerahkan CPN kepada Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) untuk diadakan penelitian dan pengkajian.
Usulan CPN yang menurut pertimbangan TP2GD dinilai memenuhi kriteria, kemudian diajukan oleh Gubernur selaku Ketua TP2GD kepada Menteri Sosial Rl selaku Ketua Umum Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP).
Setelah itu, Menteri Sosial Rl melalui Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial atau Direktorat Kepahlawanan, Keperintisan dan Kesetiakawanan Sosial mengadakan penelitian administrasi.
Usulan CPN yang telah memenuhi persyaratan administrasi kemudian diusulkan kepada TP2GP untuk dilakukan penelitian dan pengkajian.
Baru setelah itu, usulan CPN yang menurut pertimbangan TP2GP dinilai memenuhi kriteria, kemudian oleh Menteri Sosial Rl selaku Ketua Umum TP2GP diajukan kepada Presiden Rl melalui Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan guna mendapatkan persetujuan Penganugerahan Pahlawan Nasional sekaligus Tanda Kehormatan lainnya.
“Bisa lancar setahun atau dua tahun, tergantung kerja keras dan ikhtiar kita,” ujar Mufti Ali.
Melansir Wikipedia, Syekh Arsyad Thawil adalah ulama sekaligus pejuang Indonesia yang berjuang dalam Perang Cilegon dari 9 sampai 30 Juli 1888 bersama Ki Wasyid, Tubagus Ismail, dan pejuang lainnya dari Banten. Arsyad adalah murid dari Syekh Nawawi al-Bantani, seorang ulama dari Banten yang menjadi Imam Masjidil Haram, Mekkah.

Pada bulan Desember 1945, Soekarno, selaku presiden Indonesia menyampaikan pidato di hadapan masyarakat Banten di alun-alun Kota Serang. Pada awal sambutannya, Soekarno menyebutkan bahwa Arsyad Thawil adalah pahlawan besar dari Banten.
Arsyad lahir di Desa Lempuyang, Tanara, Kabupaten Serang. Ayahnya adalah orang Banten yang bernama Imam As’ad bin Mustafa bin As’ad. Sementara ibunya adalah Ayu Nazhah. Tidak ada yang tahu persis tanggal dan tahun kelahirannya, namun di batu nisannya tertulis bahwa ia lahir pada tahun 1851 M.
Arsyad lahir dengan nama Mas Mohammad Arsyad. Julukan “Mas” adalah singkatan dari Permas, sebuah gelar kebangsawanan Banten yang merupakan keturunan kesultanan. Sementara nama Thawil (bahasa Arab: : ṭawīl) yang berarti panjang, ia peroleh karena ada seorang teman bernama Syekh Arsyad Qashir al-Bantani, Qashir (bahasa Arab: : qaṣīr) yang berarti pendek. Karena itu, untuk membedakannya dari Arsyad Qashir, teman-temannya kemudian menyematkan nama Thawil di balik namanya.
Arsyad menikah di tempat pengasingannya di Manado dengan seorang gadis Minahasa yang merupakan anak dari seorang pendeta. Wanita itu bernama Magdalena Runtu yang setelah memeluk agama Islam mengubah namanya menjadi Tarhimah Magdalena Runtu.
Setelah kalah dalam Perang Cilegon tahun 1888, Arsyad ditangkap bersama 100 pejuang lain yang terlibat dalam pertempuran tersebut. Dia dipenjara di Serang, lalu dipindahkan ke Batavia. Saat dipenjara di Batavia inilah Snouck Hurgronje menemuinya, tetapi persahabatan antara mereka tidak mengubah statusnya sebagai tahanan. Tak lama setelah dipenjara di Batavia, ia kemudian diasingkan ke Manado, Sulawesi Utara.
Arsyad aktif mengajar masyarakat di tempat pengasingannya, Manado. Ia mengajar di bidang ilmu pengetahuan Islam, di antaranya adalah fikih, nahwu-sharaf, tasawuf, hadis dan lain-lain.
Tidak kurang ratusan ulama dari Manado, Gorontalo, Ambon, Ternate, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Donggala, dan daerah lainnya belajar kepada Arsyad. Dia juga dikenal sebagai salah satu penyebar agama Islam ke wilayah mayoritas Kristen di Indonesia.
Arsyad meninggal di Manado, Sulawesi Utara, pada hari Senin, 14 Zulhijah 1353 Hijriyah atau bertepatan dengan 19 Maret 1935 Masehi. Imam salat jenazahnya adalah al-Habib Hasan bin Abdur Rahman Maula Khailah al-‘Alawi.
Nama Arsyad Thawil kemudian diabadikan menjadi nama sebuah masjid di Komo Luar, Wenang, Manado dengan nama Masjid Kiai Haji Arsyad Thawil. Haul atau peringatan hari kematiannya selalu diadakan setiap tahun di masjid ini. (Danz*).























