Sangihe, Swarakawanua.id- Kepala Badan Meteorologi klimatologi Geofisika(BMKG) klas 3 stasiun Naha Rafael Alesandro Marbun S.Tr, Minggu 23 Maret 2025 menghadiri rapat terbatas yang dipimpin langsung Bupati dan Wakil Bupati Sangihe guna membahas Cuaca Ekstrem yang terjadi di Sangihe.
Dalam rapat koordinasi ini dihadiri oleh pemerintah daerah Bupati dan Wakil Bupati, BPBD Sangihe,Pos SAR,Polres Sangihe,Serta kepala OPD.
Kepala BMKG Stasiun Naha Rafael Alesandro Marbun S.Tr mengatakan, cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah Sangihe pada tanggal 21-22 Maret 2025 disebabkan karena adanya Gelombang Atmosfer Low Frequency dan Anomali OLR Negatif yang melewati Wilayah Sulawesi Utara Termasuk Sangihe,Ucap Marbun.
“Selain itu MJO berada pada fase 5 yang turut mendukung pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia termasuk wilayah Sangihe,”kata Kepala BMKG Stasiun Naha Marbun.
Lanjutnya,selain itu terdapat daerah konvergensi diwilayah Sangihe yang mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif dilokasi kejadian bencana tanah longsor,ujar Alesandro Marbun.
Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe Michael Thungari SE, MM menyampaikan,pihak pemerintah telah melakukan analisa untuk mengantisipasi kebencanaan yang ada, ujar Thungari.

“Pemerintah Daerah bersama BMKG dan dinas Terkait telah menganalisa dan mengidentifikasi titik-titik longsor dan bencana di seluruh wilayah Sangihe,”ucap Bupati Michael.
Thungari Menambahkan, Pemerintah Bersama BMKG serta Pos SAR dan dinas terkait langsung mengunjungi beberapa titik lokasi bencana serta beberapa rumah warga yang terdampak akibat cuaca ekstrem ini.(Gops07)


























