Sangihe, Swarakawanua.id-Hari AIDS Sedunia di Kabupaten Kepulauan Sangihe tahun ini diwarnai kekhawatiran atas meningkatnya jumlah kasus HIV/AIDS. Kepala Dinas Kesehatan Sangihe, dr. Handry Pasandaran, menyampaikan bahwa sepanjang 2025 terjadi kenaikan kasus yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Sangihe dr Handry Pasandaran merinci bahwa 85 kasus tercatat hingga akhir November. Dari jumlah tersebut, beberapa pasien telah meninggal dunia, sementara enam hingga tujuh pasien masih dirawat di fasilitas kesehatan yang ada di kabupaten, mulai dari FKTP, puskesmas, hingga rumah sakit.
“Sebaran kasus terjadi hampir merata di seluruh kecamatan. Rentang usia pasien juga sangat luas, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa,” ujar Pasandaran. Ia menambahkan bahwa mayoritas yang terinfeksi adalah perempuan, meski jumlah pasien laki-laki juga cukup signifikan. Kondisi ini, menurutnya, menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat bahwa penularan masih berlangsung aktif.
Penguatan Deteksi Dini dan Pemeriksaan Kontak Erat
Untuk menekan laju penularan, Dinas Kesehatan Sangihe memperketat pemeriksaan kontak erat khususnya dalam lingkup keluarga inti. Pasangan suami-istri serta ibu hamil dan anak menjadi prioritas skrining. Langkah ini diyakini dapat mempercepat deteksi dini sekaligus memastikan pasien menerima terapi antiretroviral (ARV) secara berkesinambungan.
Memperingati Hari AIDS Sedunia, Bidang P2PM menggandeng sejumlah komunitas peduli HIV/AIDS menggelar sosialisasi lapangan, layanan kesehatan gratis, dan skrining massal kepada kelompok usia produktif. Pemeriksaan dilakukan di sejumlah titik fasilitas umum, permukiman, serta kawasan dengan tingkat mobilitas penduduk yang tinggi.
Kelompok Berisiko Tinggi Menjadi Target Pendampingan
Pasandaran menyebut bahwa kelompok berisiko seperti pekerja seks komersial, baik perempuan maupun laki-laki, serta waria, menjadi fokus utama edukasi dan pengawasan. Materi edukasi mencakup praktik hubungan seksual aman, peningkatan kesadaran penggunaan kondom, hingga urgensi pemeriksaan berkala untuk mencegah infeksi yang tidak terdeteksi.
Program edukasi ini dilaksanakan tidak hanya melalui penyuluhan, tetapi juga lewat pendekatan komunitas dan pendampingan berkelanjutan bersama lembaga lokal yang selama ini aktif memberikan layanan kepada ODHA.
Sekolah Jadi Lokasi Intervensi Penting
Dinas Kesehatan turut memperluas jangkauan edukasi ke sekolah-sekolah. Para pelajar diberikan pemahaman mengenai HIV/AIDS, penyakit menular seksual, serta bahaya NAPZA. Intervensi ini diperlukan mengingat perubahan perilaku remaja yang dinilai semakin rentan terhadap paparan informasi salah maupun aktivitas berisiko.
“Kami ingin memastikan generasi muda memahami bahaya HIV sekaligus tidak terbawa stigma. Edukasi harus dimulai sedini mungkin,” tegas Pasandaran.
Di akhir keterangannya, Pasandaran menegaskan bahwa penanganan HIV tidak hanya soal aspek medis, tetapi juga sosial. Stigma dan diskriminasi menjadi hambatan besar bagi pasien dalam mengakses layanan kesehatan.
“HIV dapat dikelola. Yang terpenting adalah kesadaran masyarakat untuk tidak memberikan stigma. Pasien yang berobat rutin bisa tetap produktif,” ujarnya.



























