Sangihe,Swararakawanua.id-Kegiatan pertambangan masih menjadi kontroversi di masyarakat termasuk di kabupaten Sangihe, karena dianggap rentan merusak lingkungan hidup.
Sulawesi utara memiliki potensi pertambangan sangat besar sehingga banyak investor yang tertarik menanamkan modalnya di bidang usaha tersebut. Namun tidak sedikit yang menimbulkan resistensi publik termasuk yang ada di kepulauan Sangihe saat ini.

Karena itu, usaha kegiatan pertambangan serta dampak terhadap lingkungan laut menjadi topik hangat dalam bahasan acara seminar yang di laksanakan Politeknik Nusa Utara (Polnustar) Tahuna.
Direktur Polnustar Professor Frans Ijong mengatakan, usaha pertambangan yang tidak ramah lingkungan sangat berdampak pada kelestarian ekosistem laut serta dapat merusak lingkungan.
“Pertambangan tidak bisa dilakukan di pulau kecil ini, yaitu Sangihe, karena dampaknya sangat besar,” tegas Ijong.

Lebih lanjut Professor ijong mengatakan, seminar tentang tambang dan dampaknya ini menjadi salah satu tanggungjawab perguruan tinggi Polnustar terhadap keberlangsungan kelestarian lingkungan termasuk perairan laut di kepulauan Sangihe.
“Mengingat laut saat ini menjadi tumpuan harapan hidup perekonomi bagi ratusan ribu kepala keluarga di kabupaten Sangihe sehingga pelestarian lingkungan harus dijaga dan dirawat,” ucap Profesor Frans. (Gops-07)





















