Minahasa, Swarakawanua.id-Gangguan kelistrikan–blackout–di Sulawesi Utara dan Gorontalo pada tanggal 11 Oktober 2022 berdampak pada lepasnya beberapa pembangkit yang berada di Sistem Kelistrikan Sulawesi Utara.
Beberapa pembangkit yang terkena dampak adalah PLTA Tonsealama; PLTA Tanggari; PLTP Lahendong dan PLTU Amurang.
PLN Unit Pelaksana Pengendalian Pengendalian (UPDK) Minahasa bergerak cepat.
PLN UPDK Minahasa sigap segera mengoperasikan PLTA Tanggari dan PLTD Bitung sebagai blackstart untuk membangun sistem utama di 70 kV.
Setelah itu dua unit PLTU Amurang juga segera masuk untuk menambah kekuatan pembangkit di sistem 150 kV dilanjut dengan pengoperasian pembangkit PLTP Lahendong dan pembangkit lainnya.
Manajer PLN UPDK Minahasa, Andreas Arthur menjelaskan, pengoperasian pembangkit secara cepat membutuhkan perjuangan yang tidak mudah.
Dimana, seluruh operator harus memastikan kesiapan operasi peralatan utama seperti turbin, boiler dan condensor demikian juga peralatan peralatan bantu.
“Perbaikan ini juga membutuhkan kesigapan dari tim pemeliharaan pembangkit saat harus melakukan perbaikan peralatan yang terkena dampak secara operasional,” katanya, Jumat 14 Oktober 2022.
Pengupayaan pengoperasian pembangkit tersebut berlangsung sejak awal kejadian sampai dengan 12 oktober 2022.
“Seluruh tim berjibaku tanpa mengenal waktu dan tanpa kenal lelah dengan tujuan menormalkan kembali seluruh unit tersebut,” katanya.
Bahkan personel PLTA Tanggari, PLTA Tonsealama, PLTP Lahendong dan PLTU Amurang memaksimalkan seluruh upaya agar tidak terjadi defisit daya akibat dari kekurangan pembangkit.
Sementara, pembangkit-pembangkit diesel yang menjadi pembangkit back up saat terjadi gangguan sistem tetap beroperasi normal.
Dmana PLTD Bitung dan PLTD Lopana dapat beroperasi cepat sembari menunggu pembangkit non BBM dengan kapasitas yang lebih besar dapat beroperasi.
“Puji Tuhan sampai dengan saat ini tidak terjadi pemadaman akibat kekurangan pasokan pembangkit,” jelasnya.
Seluruh kegiatan penormalan pembangkit tersebut tetap dilaksanakan dengan memperhatikan faktor keselamatan kerja pada personel dan juga instalasinya.
PLN UPDK Minahasa beserta seluruh unit pembangkitnya berkomitmen untuk tetap menjaga kehandalan pembangkit dalam kondisi apapun.
Meskipun terjadi gangguan cuaca ataupun gangguan eksternal lainnya.
“Keandalan pembangkit ini juga didukung ketersediaan energi primer yang cukup,” katanya.
PLN UPDK Minahasa juga tetap berkomitmen untuk terus melakukan inovasi inovasi teknis yang dapat memperkuat kehandalan pembangkit yang mendukung kehandalan pada sistem Sulawesi Utara dan Gorontalo.(Danz*).






















