Swarakawanua.id, BAJAWA–PLTP Mataloko Kabupaten Ngada berkapasitas 2×10 MW memainkan peran penting untuk menjaga pasokan daya listrik di Pulau Flores, NTT.
Pasalnya, daya listrik yang tersedia di Pulau Flores hanya 104,2 Megawatt (MW), sementara beban puncak sekitar 96-97 MW. Dengan kebutuhan daya listrik yang terus meningkat, Pulau Flores hanya memiliki cadangan yang minim atau hanya sekitar 7-8 MW.
Khusus Kabupaten Ngada, beban puncak tercatat sebesar 5 MW dan masih sangat bergantung pada pasokan dari daerah lain seperti Manggarai Barat dan Ende. Suplai listrik dari pembangkit yang berlokasi di Kabupaten Ngada yakni PLTMH Ogi dan Waeroa masing-masing hanya sebesar 0,1 MW dan 0,2 MW. Hal itu membuat kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko berkapasitas 2×10 MW sangat penting untuk memenuhi permintaan listrik di Ngada dan Flores ke depan.
Bobby Robson Sitorus, Manager Perizinan dan Komunikasi PLN UIP Nusa Tenggara mengatakan PLN menargetkan Commercial Operation Date (COD) atau operasi komersial PLTP Mataloko pada 2027. Saat ini, pembangunan PLTP Mataloko telah memasuki tahap akhir untuk konstruksi infrastruktur. “Untuk konstruksi infrastruktur tadi sudah tercapai sekitar 89%. Jadi makanya diperkirakan pada akhir tahun kita sudah 100%, selanjutnya persiapan untuk pengeboran,” ujarnya di Bajawa akhir pekan lalu.
Bobby menjelaskan pembangunan PLTP Mataloko dimulai oleh PLN pada 2022 lalu untuk pra-konstruksi. Proses itu dimulai dengan merampungkan semua perizinan seperti izin lingkungan, kesesuaian ruang, izin prinsip, kehutanan dan lainnya. Semua proses itu telah diselesaikan pada 2021-2022 lalu.
Selanjutnya pada 2022-2024, PLN mulai pengadaan tanah atau pembebasan lahan yang dilanjutkan dengan pembangunan 4 wellpad (A,B,C,D). Sejauh ini, lanjutnya, PLN telah merampungkan semua pengadaan tanah untuk proyek panas bumi (geotermal) itu.
Tahap berikutnya, PLN akan melakukan pengeboran yang dimulai dari mobilisasi alat berat, rig, dan manpower. Proses pengeboran untuk satu titik wellpad diperkirakan memakan waktu sekitar 6-7 bulan. “Kalau bisa dapat uapnya yang benar-benar bagus, 1 wellpad saja, kalau bisa sampai 10 MW, 10 MW itu [saja]. Tadi kalau 20 MW, kan cuma 2 wellpad saja, lainnya dibiarin dulu,” tambahnya.
Bobby melanjutkan PLN berupaya untuk menyelesaikan PLTP Mataloko sesuai dengan target yakni pada 2027. PLN menggunakan pendekatan komunikatif untuk menyelesaikan sejumlah tantangan di lapangan. Dia menyebut salah satu tantangan yang dihadapi saat ini ialah masih ada larangan dari masyarakat terkait penggunaan air. PLN bakal menggunakan air dari Tiwu Bala yang telah dihitung bersama Balai Wilayah Sungai (BWS). “Kami akan berusaha untuk sosialisasi terus sampai mendapatkan persetujuan. Kami selesaikan dulu wellpad. Kalau ditanya optimistis, kita harus optimistis 2027,” tuturnya (***)




























