Sangihe, Swarakawanua.id- Bupati bersama Forkompinda Sangihe mengunjungi Warga Kampung Kawio, Kecamatan Kepulauan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, hingga saat ini masih bertahan di posko pengungsian pasca gempa tektonik yang mengguncang wilayah perbatasan tersebut pada Senin (08/06/2026) lalu.
Kampung yang berbatasan langsung dengan negara tetangga Filipina ini menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah.
Kapitalaung (Kepala Desa) Kampung Kawio, Batin Mamintade, mengungkapkan bahwa kondisi geografis kampungnya yang terdiri dari dua pulau yakni Pulau Kawio dan Pulau Kemboreng.
Berdasarkan data awal yang dihimpun Pemerintah Kampung Kawio, dari total 177 KK (483 jiwa) yang mendiami kampung tersebut, tercatat puluhan rumah mengalami kerusakan.
”Laporan singkat kami mencatat ada 55 unit rumah rusak berat, 16 unit rumah rusak sedang, dan 8 unit rumah rusak ringan.
Tentu untuk penentuan detail kategori kerusakan besar, sedang, atau kecilnya nanti akan dipastikan oleh tim teknis yang sudah dibentuk,” ujar Batin Mamintade.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, khususnya kepada jajaran pimpinan daerah serta instansi terkait yang langsung turun tangan melihat kondisi warga.
Merespons bencana yang terjadi, Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, S.E., M.M., menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara di bawah arahan Gubernur bersama unsur Forkopimda Sulut telah menginstruksikan percepatan penanganan darurat, terutama untuk wilayah Kecamatan Marore.
”Pertama-tama, kami menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Kecamatan Marore, khususnya di Kampung Kawio sebagai wilayah terdampak paling signifikan. Namun, kita patut bersyukur kepada Tuhan, di tengah duka dan trauma ini, tidak ada korban jiwa atau meninggal dunia satu orang pun. Bangunan bisa kita dirikan kembali, tetapi nyawa tidak akan pernah kembali,” tutur Bupati Kamis, (11/06/2026)
Bupati menegaskan kehadiran pemerintah ke wilayah perbatasan ini membawa misi kemanusiaan guna meringankan beban warga. Berbagai bantuan logistik hasil kolaborasi instansi vertikal, Pemprov, Pemkab, hingga BUMN/BUMD seperti Bank SulutGo, Bank BRI, PLN, dan Pertamina yang akan di bagikan di tiga pulau yang ada di Kecamatan Kepulauan Marore, yaitu yg pertama di Kampung Kawio ini,
dan selanjutnya di Marore dan Matutuang.
Untuk memastikan pemenuhan kebutuhan dasar, Bupati menjamin seluruh warga Kampung Kawio baik yang rumahnya terdampak langsung maupun tidak, akan menerima bantuan secara merata. Bantuan yang disalurkan meliputi tenda, tikar, matras, beras, makanan anak, hingga kebutuhan pokok lainnya.
”Semua warga akan dapat. Bedanya, yang terdampak tentu porsinya lebih banyak. Mengapa yang tidak terdampak tetap dapat? Karena kami tahu dalam situasi sulit seperti ini, tetangga (birman) satu kampunglah yang akan paling pertama saling menolong. Mari kita jaga persatuan, kesatuan, dan saling baku bae,” pesan Bupati.
Selain logistik, Pemkab Sangihe juga menerjunkan tim medis yang terdiri dari dokter dan perawat ke lokasi pengungsian.
Guna mengantisipasi dampak kesehatan jangka panjang pascabencana, Bupati juga telah menginstruksikan Dinas Kesehatan untuk menyiagakan tenaga perawat secara bergantian.
”Mulai kemarin, sudah ada perawat yang standby di sini dengan sistem piket satu orang per bulan hingga Desember nanti, dan akan terus berlanjut ke tahun berikutnya. Ini penting agar kebutuhan medis mendesak bisa tertangani sebelum pasien dirujuk ke Puskesmas Marore atau ke Tahuna,” ujar bupati
Menyikapi kekhawatiran warga terkait gempa susulan yang masih terasa hingga 4-5 kali selama peninjauan berlangsung, Bupati memaklumi jika warga saat ini masih memilih bertahan di dalam tenda pengungsian.
Bupati juga menambahkan terkait perbaikan rumah warga yang rusak, tim teknis dari dinas terkait saat ini sudah berada di lapangan untuk melakukan kalkulasi, verifikasi, dan validasi fisik bangunan secara objektif.
”Kami meminta masyarakat untuk sedikit bersabar. Proses pendataan material dan bahan bangunan akan dipercepat agar bantuan bisa segera datang ke sini, tentunya dengan tetap mematuhi aturan dan perundang-undangan yang berlaku,” tambahnya.
Di akhir penyampaiannya, Bupati Michael Thungari memberikan imbauan edukatif kepada warga Kawio terkait keselamatan bangunan di masa depan. Dari hasil pengamatan lapangan, mayoritas rumah yang roboh dinilai belum memenuhi standar keamanan struktur bangunan penahan gempa.
Pemerintah berharap, saat proses rekonstruksi dimulai nanti, warga dapat lebih memperhatikan kekuatan dan struktur bangunan demi keselamatan jangka panjang.
Acara di tutup dengan Penyerahan bantuan dari BPBD dan Dinas Sosial Kabupaten Kepulauan Sangihe yg di serahkan langsung secara simbolis oleh Bupati Sangihe Michael Thungari kepada masyarakat yang terdampak bencana.





















