Pelatihan Water Rescue Mampu Mencetak Kesadaran dan Keselamatan Saat Melaut

Sangihe, Swarakawanua.id-Bertempat di pantai Desa Naha, kabuaten Sangihe, seluruh peserta pelatihan water rescue telah mengikuti serangkaian kegiatan pelatihan water rescue dari materi di kelas sampai materi lapangan, seluruh peserta antusias mengikuti tahap demi tahap cara-cara dasar penanganan korban.

Dalam setiap pelatihan seluruh peserta di bekali materi dasar MFR ( Medical First Responder) terlebih dahulu, materi ini sangat penting di setiap pelatihan Sar atau penanganan pertama pada kecelakaan untuk meminimalisir korban jiwa.

Pada materi lapangan seluruh peserta menerima materi cara- cara evakuasi korban di laut, membawa perahu karet dengan mendayung maupun pengoperasian motor tempel, bongkar pasang perahu karet dan cara cara bertahan di lautan, dari beberapa materi yang di berikan instruktur. Sebanyak 40 peserta dari beberapa elemen masyarakat seperti, TNI, Polisi, BPBD, Pol PP, Damkar, Dinas Pariwisata, Agen Kapal, Mapala dan masyarakat setempat bisa mengaplikasikannya pada saat terjadi musibah atau kecelakaan yang sebenarnya dan bisa membantu Basarnas disaat melaksanan operasi sar.

Kepala Kantor Basarnas Manado Suhri Sinaga mengatakan, dengan pelatihan ini di harapkan peserta bisa membantu Basarnas mensosialisasikan keberadaan Basarnas di Sangihe dan sekitarnya, masyarakat saat ini masih kurang kesadaran tentang keselamatan pada diri sendiri atau di lingkungannya sehingga setiap terjadi musibah orang hilang di laut masyarakat melaksanakan pencarian sendiri dan di sebarluaskan melalui medsos tidak langsung melapor ke Basarnas.

“Semua peserta di ajarkan simulasi cara cara penanganan dan evakuasi korban kecelakaan di laut, semua peserta yang terlibat dalam simulasi semua mampu memahami peran masing masing, harapan kami dengan berakhirnya pelatihan setiap peserta bisa mengaplikasikan nya dan memperpanjang tangan dari basarnas untuk penanganan kecelakaan atau musibah di laut,” kata Suhri.

Pelatihan ini tidak sampai disini saja tetap ada jenjang berikutnya, sehingga masyarakat yang terlibat bisa memahami bahaya musibah bagi diri sendiri dan orang lain pada saat melaut.(Gops-07)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *