Minut, Swarakawanua.id – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggelar ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Tahun 2022.
ADWI merupakan merupakan ajang pemberian penghargaan kepada Desa-desa wisata yang memiliki prestasi dengan kriteria-kriteria penilaian dari Kemenparekraf/Baparekraf.
Event ini bertujuan menjadikan desa wisata Indonesia sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia dan berdaya saing tinggi.
Pada pengumuman melalui Instagram @anugerahdesawisataindonesia, oleh Menparekraf Sandiaga Uno, pada Minggu (24/4/2022). Salah satu Desa Wisata di Kabupaten Minahasa Utara (Minut) masuk dalam nominasi 100 besar ADWI Tahun 2022 yakni Desa Budo Kecamatan Wori.

Hal ini pun mendapat dukungan dari Bupati dan Wakil Bupati Minut Joune Ganda-Kevin Wiliam Lotulong bahkan seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Minut.
Bupati mengatakan, seluruh Desa yang ada di Minut bisa masuk nominasi seperti ini. Kata dia, yang terpenting terus menggali potensi-potensi yang ada salah satunya Desa Wisata.
“Kedepan Desa Wisata ini akan memberikan support bagi DPSP Likupang. Kami juga Berharap semoga Desa Budo yang telah masuk 100 besar bisa terus berhasil ke tahapan seleksi selanjutnya,” kata Bupati Joune.
Berbicara tentang Desa Budo Kecamatan Wori, kembali kebelakang bagaimana awal mula Desa ini terbentuk.
Sejarah Terbentuknya Desa Budo ;

Pada Zaman dahulu kala Desa Budo berupa Hutan. Suatu ketika datang dua orang suami istri yang berarsal dari Suku Kaili, Sulawesi Tengah, lama kelamaan mereka memiliki seorang anak perempuan yang berkulit putih yang berambut pirang yang diberi nama Budo, sejak itu nama Desa Budo di ambil dari anak permpuan ini yang berasal dari Suku Kaili, Seiring waktu berjalan kedua orang tua dan anaknya pergi meninggalkan tempat ini hingga tempat ini menjadi lahan perkebunan, waktu demi waktu terus berjalan perkebunan ini kemudian menjadi satu perkampungan atau Dusun yang di namai Dusun Budo.
Awalnya Desa Budo ini adalah Desa yang satu dengan Desa Darunu (Desa Tetangga) Akan tetapi Pada tahun 1950 karena warga perkampungan mulai bertumbuh dan mulai hidup mandiri,kemudian warga pun mulai bertambah banyak dan akhirnya pada tahun 1965 ada Bapak yang bernama Yohanis Pinamangung dengan di bantuh oleh beberapa temannya untuk berjuang memisahkan perkampungan ini dari desa Darunu dengan tujuan untuk berdiri sendiri dan ingin berpisah dari Desa Darunu dan membentuk satu perkampungan yang terdiri dari dua dusun atau jaga yang yang dinamai perkampungan Desa BUDO.
Pada tahun yang sama Yohanis Salaeng menjabat sebagai Hukum Tua Desa Budo yang pertama,dan dalam masa jabatan beliau akhirnya berkembang menjadi Sepuluh Hukum Tua yang terdiri dari :
- Yohanis salaeng – Tahun 1965
- Aser kagiling
- Yunus Kandung
- Erens pianaung
- Welly taidi
- Wem kagiling
- Zet lintogareng
- Bertji salindeho
- Hani Lorens Singa
- Lisbet Lintogareng – Sekarang.
Potensi Wisata Desa Budo ;



Keindahan tempat-tempat Wisata di Desa ini juga sudah sepatutnya masuk nominasi 100 besar pada Ajang ADWI Tahun 2022, selain keindahan laut dan hutan Mangrove. Disini juga memiliki dua gunung yang tak kalah indah yakni Gunung dapi-dapi dan Gunung Piring.
Untuk Manggrove sendiri terdapat sembilan jeni Hal itu dikatakan mantan Hukum Tua Desa Budo Hani Lorens Singa adapun jenis-jenisnya yaitu, Mangrove Merah, Api – Api Hitam, Bakau Kurap, Avicennia Lanata (Api – Api), Avecennia Marina (Api – Api Putih), Acrostichum Aureum,Kandelia Candel, Kandelia Obevata dan Rizhopora Lamarckii.
Sedangkan untuk laut memliki potensi yang sangat indah terletak pada dasar laut berbagai jenis ikan dan lain-lain terdapat didalamnya dan dapat dilihat ketika akan menyelam.
Seni dan Budaya ;


Seni dan Budaya di Desa ini juga menyajikan seni tari Masamper, pato-pato dengan menggunakan musik tradisional Gitar Mama.
Untuk Budaya sendiri yakni upacar adat Tulude yang biasanya tahun baru Januari atau Februari dan ditandai dengan memotong kue Tamo.
(Mesakh)



























