Caption: Foto Ilustrasi. (*).
Minahasa,Swarakawanua.id- Evoria Pemilihan Hukum Tua (Pilhut) sudah selesai, namun masih meninggalkan banyak hal yang menjadi pergunjingan di masyarakat.
Dalam hal ini, media swarakawanua.id yang mendapatkan laporan dari masyarakat di salah satu Desa di Minahasa tepatnya di Desa Kembuan, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa yang mengaku Pemilihan Hukum Tua (Pilhut) kali ini diduga diwarnai dengan money politik dan Black Campain yang dilakukan oleh salah satu calon untuk memuluskan pertandingan tersebut.
Seperti keterangan salah satu warga yang menjelaskan bahwa dirinya sebagai masyarakat mau hasil yang fair, dimana masyarakat memilih dengan hati bukan karena uang.
“Saya sebagai masyarakat desa Kembuan tentunya sangat ingin Desa ini maju, dan lebih baik lagi. Karena itu saya mengharapkan pemimpin yang benar-benar lahir dari pilihan hati nurani masyarakat, bukan karena dibayar. Karena hal ini terjadi saat pilhut yang baru saja digelar, dimana kami dipanggil untuk ibadah malam itu , tepatnya Minggu (29/5/2022) sekira jam 07.00 wita.Setelah ibadah kami diarahkan untuk lewat pintu belakang, dan kami menerima sampul, saat itu memang ada pertanyaan mengenai sampul apa ini ? Namun dijawab ini adalah sampul ucapan syukur,” jelas salah satu warga yang tidak mau disebutkan namanya.
Media swarakawanua.id pun konfirmasi dengan ke empat calon yang ada, namun yang bisa dihubungi hanya dua calon, dan dari keterangan kedua calon, mereka tak menampik akan adanya dugaan money politik saat pemilihan saat itu.
“Kasus dugaan itu memang terjadi, karena salah satu dari pendukung saya, sehabis menerima sampul, dia langsung datangi saya dan menunjukan sampul yang diterimanya. Saya sebagai salah satu calon tidak setuju akan hal tersebut, karena saya nilai tindakan itu sudah menyalahi,” ungkap Jein Calon nomor tiga saat pilhut, lewat telpon kepada media ini.
Calon nomor empat Adelbert Tumengkol juga mengaku kecewa akan adanya permainan uang saat pemilihan lalu. Karena menurut pengakuannya pembagian sampul terjadi beberapa kali, saat pembagian pertama ia sudah sempat melaporkan kepada ketua panitia pemilihan, dan saat dihubungi ketua panitia mengaku dirinya sedang sibuk.
“Saya sangat tidak setuju dengan adanya permainan uang atau money politik yang terjadi saat pemilihan lalu. Saya juga didatangi pendukung saya yang menerima amplop putih dan memperlihatkan ke saya, saat dibuka jumlahnya 150 ribu. Saya sudah sempat melaporkan hal ini ke ketua panitia saat pembagian sampul awal, namun ketua panitia pemilihan hanya berkata dia sedang sibuk, dan saat pembagian sampul pada H-1 sebelum pemilihan yaitu hari Minggu malam tanggal (29/6/2022) yang katanya adalah ibadah, saya juga melaporkan tindakan tersebut kepada sekertaris panitia, ia pun mengatakan akan ditindak lanjuti namun pada kenyataannya itu tidak dilakukan,” ungkap calon no empat dengan nada kecewa.
Ketua panitia pemilihan Harry Paat ketika akan dimintai keterangan lewat telpon, namun tidak bisa dihubungi, sehingga media ini menghubungi wakil ketua panitia Jeldy Tumengkol.
Saat ditanyai mengenai dugaan money politik seperti laporan masyarakat dan keterangan kedua calon, Tumengkol pun mengatakan untuk kasus itu sudah sempat didengar dengar karena memang heboh di masyarakat, dan ada laporan juga dari calon yang lain.
“Rumor itu ada, saya tidak bisa memastikan karena memang saya tidak melihat secara langsung, namun pada saat pembagian sampul pada hari minggu itu, ada dua anggota panitia yang ikut mendapatkan sampul tersebut. Karena saat itu diundang untuk ibadah, jadi kedua anggota panitia yang juga adalah pelsus ikut hadir dalam ibadah tersebut. Dari keterangan mereka, selesai ibadah mereka disuruh lewat pintu belakang dan diberikan sampul. Mereka sempat menolak namun dari calon nomor lima mengatakan, terima saja ini cuma sampul ucapan syukur. Kedua anggota kami yang menerima sampul itu mengaku dan memperlihatkan kepada saya, dan sampai saat itu jumlahnya berapa mereka tidak tau, karena amplop itu belum mereka buka sampai sekarang,” terang wakil ketua panitia pemilihan Desa Kembuan.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Jeffry Tangkulung, saat akan dikonfirmasi oleh media ini melalui telpon, tidak bisa dihubungi.(echa)


























