Manado, Swarakawanua.id-Mempersiapkan generasi emas bukan hal mudah. Karena Stunting masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak di bawah usia dua tahun di Indonesia.
Kondisi tersebut harus segera diantisipasi dan dicegah karena akan menghambat momentum generasi emas Indonesia termasuk anak-anak di Bumi Nyiur Melambai ini.
Pemerintah Provinsi Sulut serta kabupaten/kota giat-giatnya melakukan langkah pencegahan terhadap masalah Stunting saat ini.
Stunting juga ikut menjadi perhatian penuh Tokoh Kawanua yang juga Ketua Dewa Pembina Kerukunan Kawanua di Jakarta,
Irje Pol. (Purna) Dr. Ronny Sompie SH, MH,
Menurut Mantan Kadiv Humas POLRI ini, Stuntng harus disikapi secara bersama-sama oleh pemerintah serta orang tua karena terkait perkembangan masa depan bayi dan anak di Sulut ke depan.
Untuk itu, lanjut mantan Kapolda Bali ini, pencegahan harus dilakukan cepat sebelum Stunting jadi masalah serius di daerah ini. Tapi katanya, pemerintah daerah sejauh ini sudah menaruh perhatian penuh terhadap masalah gizi anak di daerah ini.
Menurut Ronny Sompie, Stunting adalah kondisi yang ditandai dengan kurangnya tinggi badan anak apabila dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Sederhananya, kata Dia, stunting merupakan sebutan bagi gangguan pertumbuhan pada anak. Penyebab utama dari stunting adalah kurangnya asupan nutrisi selama masa pertumbuhan anak.
“Stunting adalah gangguan yang terjadi pada anak-anak dan berpengaruh terhadap pertumbuhan mereka. Sebagian dari Anda mungkin masih cukup asing dengan istilah ini, namun kasus stunting cukup umum terjadi di Indonesia,” ungkap Ronny Sompie.
Ronny Sompie yang dikenal salah satu mantan perwira Polri berotak encer ini menuturkan, Stunting juga merupakan salah satu jenis masalah kesehatan anak akibat gizi buruk, terutama bila berlangsung dalam jangka panjang.
” Kondisi ini bisa jadi disebabkan oleh malnutrisi pada ibu hamil atau semasa anak dalam masa pertumbuhan,” ungkap dia.
Kata dia, ciri-ciri paling umum yang terlihat ketika anak mengalami stunting adalah berperawakan lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Tetapi, pada dasarnya postur tubuh anak dipengaruhi oleh banyak faktor.
.
Namun, penyebab stunting yang paling banyak adalah karena kekurangan gizi. Maka dari itu, Anda sebagai orang tua harus tahu bagaimana cara mengatasi susah makan pada anak yang terkadang menjadi masalah umum pada anak-anak, khususnya balita.
Kebutuhan Nutrisi Anak Tidak Tercukupi
Kondisi ini bisa terjadi setelah kelahiran, tepatnya di saat anak di bawah usia dua tahun namun kebutuhan asupan gizinya tidak terpenuhi. Asupan yang dibutuhkan tersebut meliputi ASI dan MPASI (makanan pendamping ASI).
Selain itu, kurangnya asupan makanan juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab stunting, khususnya makanan yang kaya akan protein, mineral zinc, serta zat besi yang penting bagi anak di usia balita.
Seperti diketahui, terdapat dua poin penting yang menjadi faktor utama terjadinya stunting pada anak.
Kebutuhan Nutrisi Anak Tidak Tercukupi
Kondisi ini bisa terjadi setelah kelahiran, tepatnya di saat anak di bawah usia dua tahun namun kebutuhan asupan gizinya tidak terpenuhi. Asupan yang dibutuhkan tersebut meliputi ASI dan MPASI (makanan pendamping ASI).
Selain itu, kurangnya asupan makanan juga bisa menjadi salah satu faktor penyebab stunting, khususnya makanan yang kaya akan protein, mineral zinc, serta zat besi yang penting bagi anak di usia balita.
Kurangnya Asupan Gizi pada Ibu Selama Hamil.
Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa sekitar 20% kasus stunting terjadi sejak anak berada dalam kandungan. Hal ini dapat terjadi akibat makanan yang dikonsumsi ibu selama hamil kurang bergizi sehingga janin tidak mendapatkan cukup nutrisi.
Akhirnya, pertumbuhan janin dalam kandungan mulai mengalami hambatan dan terus berlangsung hingga setelah kelahiran. Maka dari itu, penting memastikan ibu mengonsumsi makanan yang bergizi selama hamil.
Penyebab Lainnya.
Selain dari dua poin utama di atas, adapun beberapa penyebab stunting adalah sebagai berikut:
• Kurangnya pengetahuan ibu terhadap pentingnya pemenuhan gizi sebelum hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan.
• Kurangnya persediaan air bersih dan sanitasi.
• Berat badan ibu tidak naik selama hamil atau kenaikan berat badan ibu kurang dari nilai ideal.
• Terbatasnya akses pelayanan kesehatan.
• Anak menderita penyakit yang menghalangi penyerapan nutrisi. (Danz*).






















