Olly Lobi Tiongkok, Ronny Sompie: Kesatuan Manajemen Pariwisata 15 Kabupaten/Kota Harus Baik

Caption: Irjen Pol. (Purna) Dr. Ronny Sompie SH, MH. (*)

Manado, Swarakawanua.id-Tokoh Nasional asal Sulawesi Utara (Sulut), Irjen Pol. (Purna) Dr. Ronny Sompie SH, MH mengapresiasi langkah yang dilakukan Pemprov Sulut melalui Gubernur Olly Dondokambey dalam melobi jaringan kerja sama luar negeri khususnya penerbangan Manado-Tiangkok, China.

Menurut mantan Kadiv Humas POLRI ini, tindak lanjut dari upaya yang sudah dilakukan Gubernur Sulut yang sudah membuka jaringan kerja sama Internasional, harus di falow up pihak-pihak terkait.

Lanjut Ronny Sompie, setelah lobi dari Olly Dondokambey, maka langkah selanjutnya merupakan bagian dari tugas para pelaksana teknis seperti para Kepala Dinas terkait sampai ke Camat, Lurah dan Hukumtua / Sangadi / Kepala Desa yang ada di Bumi Nyiur Melambai.

Mantan Kapolda Bali ini menjelaskan, di sektor Pariwisata, ada dua bidang, yaitu Pariwisata Alam dan Pariwisata Budaya. “Pariwisata alam, torang punya di Sulut kalah jao dari China depe indah, asri, perawatan dan pemeliharaannya apalagi dikaitkan dengan teknologi. Karena itu, Pembangunannya yang memudahkan para wisatawan bisa menjangkau lokasi wisata tertentu di atas bukit ataupun di lokasi rawan untuk dilakukan pendakian atau perjalanan darat. Oleh karena itu, utamakan Pariwisata Alam di dekat laut dan pantai yang masih alami,” saran Mantan Dirjen Imigrasi Kemenkum Ham ini.

Lanjut putra asli berdarah Minut asal Desa Sukur ini, pariwisata budaya, belum disiapkan dengan baik kesatuan manajemen di 15 Kab dan Kota se Sulut. “Masih terkesan tidak saling menguatkan, belum saling kerjasama, belum saling mendukung satu sama lainnya, sebagaimana yang bisa torang lihat di Bali dan Yogyakarta,” terang Ronny Sompie.

“Kalau bisa, janganlah hanya dimonopoli oleh Tujuan Wisata di daerah Minahasa Raya saja. Kong bagaimana Sangihe Talaud (Nusa Utara Raya) juga Bolaang Mongondow Raya. Bagaimana depe pembagian kesempatan menjadi tujuan pariwisata di Sulut ? Kalau boleh para wisatawan dibuat betah berlama-lama di Sulut, dengan rangkaian perjalanan dari Minahasa Raya ke BMR lewat perjalanan darat. Kemudian lewat perjalanan laut meneruskan juga ke Sangihe Talaud, karena di sana banyak sekali pariwisata alam yg terpendam,” ungkap Dia.

Ronny Sompie mencontohkan KEK Likupang dengan Destinasi Skala Prioritas, tindak lanjut yang telah dilakukan oleh Kepala Dinas terkait sudah seperti apa saat ini. Hal ini dimaksudkan agar para warga yg telah dilatih menyiapkan Homestay di Likupang bisa menerima kedatangan wisatawan dari Jepang setelah dibuka oleh Bapak Gubernur penerbangan langsung dari Manado – Tokyo.

“Saran saya, jangan hanya dibebankan tanggungjawab membangun kesiapan menerima wisatawan mancanegara ke Sulut, hanya oleh Dinas Pariwisata semata. Kong itu pendidikan dan pelatihan Tenaga Kerja mulai dari lulusan SMK yang bisa mendukung Tataboga – Kuliner, Menjahit – pembuatan kerajinan tangan, Pariwisata – Perhotelan dan pramu wisata yg paham obyek wisata, dsb, pasti sangat memerlukan dukungan dan bantuan dari Dinas Dikbud untuk melatih para guru2 yg bukan hanya mampu mengajar saja, tetapi mampu menjadikan lulusan SMK siap kerja seperti tenaga kerja di Bali dan Yogyakarta, ” kata dia.

Yang tidak kalah penting, lanjuf Ronny Sompie yaitu penguatan Pariwisata budaya berkelanjutan. Dimana katanya, keperluan ini bisa didukung oleh Dinas Kebudayaan dan para Camat juga para Hukumtua dan Lurah serta para Ibu PKK, KNPI dan Karang Taruna untuk menyiapkan mindset masyarakat yang siap menerima para wisatawan seperti di Yogyakarta deng Bali.

“Banyak sekali yg harus segera disiapkan secara MAPALUS diantara semua pemangku kepentingan termasuk masyarakat juga para LSM dan ORMAS Pemerhati Pariwisata. [8/5 1.01 AM] Ronny Sompie: • *Pengembangan wisata alam* bisa seperti pantai, gunung, gua, air terjun, danau, sungai, air terjun, lokasi matahari terbit, lokasi matahari terbenam, hewan khas, tumbuhan khas atau pertanian agro wisata, dsb.

Dia menjelaskan, pengembangan wisata alam sangat berkaitan dengan kondisi geografis dan pembangunan infrastruktur yang bisa memudahkan wisatawan menikmati wisata alam melalui akses perjalanan darat yang terjangkau. *Sedangkan pengembangan wisata budaya terdiri dari kegiatan upacara tradisional, menggunakan pakaian tradisional, tarian, musik, lukisa atau ukiran khas dengan kearifan lokal, rumah adat, rumah ibadah cagar budaya, bangunan cagar budaya, peninggalan sejarah, museum dan adat istiadat,” tutup Ronny Sompie yang didorong masyarakat Sulut maju di Pilcaleg DPR RI Dapil Sulut dari Partai Golkar. (Danz*).

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *