Minahasa,Swarakawaanua.id-Proyek pembangunan Pusat Pembinaan Mentalitas Pancasila Universitas Negeri Manado (Unima) berbandrol 82 miliar bersumber dari anggaran Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Tahun Anggaran (TA) 2022, bermasalah besar.
Pasalnya, pembangunan gedung Pancasila di Unima Manado akan berimplikasi hukum besar, karena anggaran 82 miliar itu bangunannya hanya berbentuk tiang dan rangka-rangka.
Proyek pembangunan gedung Pancasila diduga terjadi korupsi super jumbo pada nilai proyek yang mangkrak di tangan Rektor Unima Prof Dr Deitje Katuuk sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA).
Kondisi proyek Rp82 miliar hanya berupa kerangka bangunan atau tiang-tiang mirip sarang laba-laba dari kejauhan.
Sumber di internal Pokja membeberkan, proyek itu dikerjakan PT Rayasa Karya dan diberi waktu kerja dari September hingga Desember 2022.
Masih menurut sumber, dana sudah dicairkan sebesar 20 persen dari Rp67 miliar atau sebesar Rp13,4 miliar. Alhasil, perusahan yang memenangkan proyek tersebut tidak mampu menyelesaikan pembangunan padahal sudah menerima uang muka.
Rektor Unima Prof Dr Deitje Katuuk pun disebut sudah memutus kontrak kerja dengan perusahaan dimaksud. Tapi ironisnya, perusahan pemenang sampai saat ini masih melakukan aktivitas pekerjaan pembangunan gedung Pancasila. Itu karena pihak perusahan menang gugatan dari pihak Unima di pengadilan atas putus kontrak tersebut.
“Ada dugaan korupsi jumbo di proyek ini. Dan kami akan membawa laporan ke Komisi Pemberantasan Korupsi ataupun ke Kejati Sulut,” ujar aktivis antikorupsi Haryanto dari Institut Lembang 9.
Mengenai persoalan Proyek pembangunan Pusat Pembinaan Mentalitas Pancasila Universitas Negeri Manado itu, redaksi sudah berusaha meminta konfirmasi Rektor Prof Dr Deitje Katuuk di Kantor Unima. Sayangnya, dua kali tim gagal menemui Prof Dr Deitje Katuuk karena tidak berada di tempat.
“Ibu rektor belum balik. Masih di Jakarta,’ ujar sekuriti Unima pada upaya konfirmasi pertama.
“Rektor sudah berangkat lagi tadi pagi ke Jakarta,” ungkap salah seorang saat konfirmasi kedua di kantor Unima. (Danz*).






















