
Swarakawanua.id- PDIP telah menjadi partai favorit yang diincar banyak caleg. Banyak caleg dari partai lain berlomba-lomba untuk mendapatkan kursi dari PDIP.
PDIP sendiri tidak menampik perpindahan ini, mereka menerima siapa saja yg ingin bergabung. Fenomena apakah ini?
Jika dulu ada istilah ‘kutu loncat’ ditujukan bagi para caleg partai, yang konotasinya agak negatif karena berkaitan dengan loyalitas dan pengkaderan. Namun skrg justru semakin berbondong-bondong caleg pindah, tanpa kuatir di cap ‘kutu loncat’.
Hal ini dikatakan salah satu pengamat politik dan hukum di Sulawesi Utara, Stefan Obadja Voges SH .
“Kondisi ini adalah cerminan modernisasi kepartaian. Partai dijaman sekarang, tidak lagi menerapkan aturan kaku dalam perekrutan caleg. Apalagi dengan sistem proporsional terbuka, maka masyarakat memilih bukan hanya semata karena partai, tetapi juga figur. Bagi figur yg memiliki konstituen yang fanatik, tidak akan kesulitan mendulang dukungan, karena pendukung mereka tidak akan mempersoalkan partai sang figur berlabuh. Apalagi jika sang figur selama ini telah menunjukkan kinerja yg positif dimata masyarakat,” ucap Voges.
Lebih lanjut ia menambahkan, untuk partai sendiri meskipun cukup terbuka, namun tentunya selektif dalam memilih siapa figur yang potensial untuk membesarkan partai. Terjadi simbiosis-mutualisma atau win-win solution baik bagi partai maupun bagi caleg.
Namun ia juga mengatakan, bukan berarti bahwa hal ini tidak memiliki potensi masalah. Masuknya caleg yang berpindah partai, tentunya menutup peluang kader internal yang selama ini sudah mempersiapkan diri.
Namun hal ini pastinya akan menimbulkan persoalan internal partai. Disisi lain, sekalipun para caleg yang berpindah ini disambut untuk bergabung, namun belum tentu kemudian mereka “diterima” secara lapang dalam keluarga besar partai. Mereka sama saja dengan menapaki karier berpartai “pertamina”, mulai dari nol.
Jika dipartai sblmnya mereka memiliki posisi/jabatan dalam kepengurusan, belum tentu di partai baru mereka langsung memperoleh jabatan.
“Modernisasi kepartaian ini merupakan sebuah kenyataan yang harus dicermati oleh semua lembaga politik di negara kita. Kedepan, partai besar akan selalu menjadi target bagi para caleg. Ini merupakan konsekuensi logis politik modern,” tukasnya.(Echa)























