SwaraKawanua.ID-Puluhan warga sebuah desa di Klaten terlahir kembar. Cerita unik tersebut datang dari Desa Jonggrangan, Kecamatan Klaten Utara, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Jumlah warga yang kembar hingga saat ini sebanyak 21 pasang. Terdapat puluhan warga desa yang terlahir kembar identik maupun kembar dampit.
Fenomena orang terlahir kembar itu telah berlangsung sejak lama dan bahkan orang kembar di desa tersebut sudah berumur hingga puluhan tahun. “Iya benar. Disini memang ada warga yang terlahir kembar dan jumlahnya cukup banyak,” ujar Kepala Desa Jonggrangan, Sunarna dilansir SwaraKawanau dari Tribun Jogja.
Ia menjelaskan, jumlah warga yang kembar identik maupun kembar dampit di desa yang ia pimpin berjumlah 21 pasang atau sebanyak 42 orang. Puluhan warga kembar itu, kata Sunarna, tersebar di lima dukuh. Namun di Dukuh Jonggrangan jumlah orang kembar yang paling banyak, yakni mencapai 9 pasang.
Untuk rentang usia, juga beragam, paling tua orang kembar tersebut berusia sekitar 50 tahun dan paling kecil sekitar 3 tahun. Saat ini, 21 pasang orang kembar itu, tidak semuanya di kampung. Sebab ada juga yang hidup di rantau.
Semuanya nggak menetap disini. Sebab sudah ada orang kembar yang menikah dan hidup sama istri atau suaminya di daerah lain, ada yang di desa ini ada juga di daerah Klaten atau daerah lain,” ucapnya.
Menurut Sunarna, di desa yang ia pimpin terdapat 10 dukuh dan 7 rukun warga (RW) serta 22 rukun tetangga (RT). “Adapun jumlah warga di desa ini mencapai sekitar 4000-an orang,” imbuhnya.
Fenomena banyaknya orang terlahir kembar di Desa Jonggrangan, tidak memiliki sejarah tersendiri.
Sunarna mengaku jika fenomena itu diprediksi murni faktor genetik semata.
Diakui Sunarna, dari keturunan ibunya juga memiliki anak kembar yakni adik kandungnya yang bernama Ari Wibowo dan Ari Nugroho. Keduanya kelahiran tahun 1986 dengan jarak lahir yang tidak lama hanya sekitar 30 menit saja.
“Adik saya ini saat ini menekuni usaha bisnis roti di Klaten,” ucapnya.
Ia pun bercerita, jika saat kecil salah seorang adiknya yang kembar itu pernah disengat lebah dibagian bahu.
“Beberapa hari berikutnya kembarannya yang lain kena sengat lebah juga,” kenangnya. Disinggung terkait, pelayanan administrasi kependudukan bagi warga kembar tersebut, diakui Sunarna dirinya tidak mengalami kesulitan dalam membedakan.
Hal itu karena telah menjalani hidup berdampingan sehari-hari sehingga dirinya bisa membedakan saat orang kembar mengurua administrasi kependudukan. (dns/trb)






















