Caption: Kepala Puskesmas Kakaskasen Jeand’arc Senduk-Karundeng (tengah/bermasker) memimpin rapat di kediamannya. Tampak Ita atau Yelliy L Mondong (biru muda) setia mendampingi Jeand’arc di berbagai momentum.( Foto: Istimewa).
Tomohon, Swarakawanua.id- Pemimpin ideal kepala daerah tidak sepenuhnya dari unsur laki-laki. Aturan tak pernah melarang bahwa kepala daerah dan wakil kepala daerah dari unsur semua perempuan. Masyarakat Tomohon memiliki impian tentang pemimpin daerah berikut dari unsur perempuan dua-dua.
Setelah mendorong Kepala Puskesmas Kakaskasen drg Jeand’arc Senduk Karundeng menjadi bakal calon Walikota, warga juga menginginkan sosok Yelliy L Mondong sebagai bakal calon Wakil Walikota Tomohon. Itu lantaran sepak terjang Itha (sapaan Yelliy L Mondong) yang begitu loyal mendampingi Jeand’arc di hampir semua momentum pemerintahan. Manajer SPBU ini juga tergolong sosok manajer yang berhasil di dunia bisnis.
Kebiasaan pendampingannya terhadap Jeand’arc yang sangat dominan selama ini, diyakini membuat elektabilitas dan popularitas Jeand’arc melejit setahun ke depan.
“Kita ingin agar Kota Tomohon menjadi kota pertama yang berperang melawan subordinasi perempuan di bidang politik dan perempuan. Caranya, mendorong paket JEANITA (Jeand’arc Senduk Karundeng – Ita/Yelliy L Mondong) di Pilkada 2024 betikut. Menjadi bersejarah, jika warga Tomohon meletakkan kepercayaan di pundak JEANITA,” tutur Maikel Muntu, warga Tomohon yang aktif memantau kinerja pemerintahan.
Menyinggung kemungkinan tandem Jeand’arc bersama Nitha Wenur atau Vonny Paat, Maikel menunjukan keraguannya.
“Secara kepartaian, peluang itu bisa saja terjadi. Tapi pemimpin yang berhasil itu datang dari kekompakan dan pengalaman kerja sama yang sudah teruji. JEANITA selama ini sangat apik berkolaborasi. Mereka mendedikasikan waktu, tenaga dan sumber daya untuk Tomohon,” jelas Maikel.
Ia yakin, jika Jeand’arc berpasangan dengan Nitha Wenur atau Vonny Paat, hanya akan mendatangkan perseteruan di pemerintahan karena porsi dan tanggung jawab distribusi sumber daya ASN yang tidak setara. Atau potensi rusuh karena pembagian proyek dari postur ABPD tidak seimbang.
“Saya kira, sudah betul JEANITA impian dan harapan baru masyarakat di periode berikut,” tandas Maikel.
Terpisah, pengamat politik dan pemerintahan Fredi Benny Sumual SIP MSc menilai, kemungkinan duet semua perempuan bisa terealisasi jika ada satu parpol yang bisa mengusung sendiri.
“Misalnya, papan satu dari PDIP atau Golkar. Papan dua dari unsur nonpartai yang dikehendapi papan satu atau partai pengusung. Kalau keduanya sejiwa dalam visi dan misi, itu pontensi besar untuk menang,” kata Fredy. (TrepleM).






















