Tomohon,Swarakawanua.iid-PDI Perjuangan terancam rugi besar di Pilkada Kota Tomohon, kalau tetap memaksakan petahana balon walikota Caroll Senduk.
Itu karena Caroll Senduk maupun merasa tidak bersalah walau di depan.mata sudah jelas menabrak Undang-undang Pilkada nomor 10 tahun 2016.
Itu karena Caroll Senduk melakukan rolling tanggal 22 Maret 2024 tanpa didahului persetujuan Kementerian Dalam Negeri.
Ini jelas-jelas salah, karena tidak mengikuti UU Pilkada pasak 71 ayat 2.
Namun dekikian, Caroll Senduk merasa diri benar dengan memperalat Surat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tertanggal 10 Mei 2024 yang ditandatangani Direktur Jenderal Otonomi Daerah. Sangat disayangkan, surat koresponden kepala daerah dan Dirjen Otda itu dianggap tidak akan mampu menyelamatkan Caroll Senduk untuk melenggang ke arena kompetisi Pilkada 2024.
Sikap tidak tahu diri itu menurut sejumlah kader PDIP hanya akan membuat rugi PDIP di Pilkada nanti.
Padahal, seandainya Caroll Senduk menggunakan akal sehat dan segera memutuskan mundur dari pencalonan,
PDIP bisa saja mengganti figur calon dengan sosok lain yang tidak bermasalah secara hukum dan memenangkan Pilkada di dua daerah.
“Ini orang kalau tahu adat dari awal, jangan bapaksa diri. Tahu-tahu langgar Undang-undang, mo stel bapaksa. Kiapa ini republik nn punya, kong boleh mo ator-ator KPU? Sudah jelas langgar undang-undang, masih mau memaksakan kehendak. Emang kenapa? Republik ini nn punya ? Sehingga bisa atur-atur KPU?),” sindir kader-kader PDIP yang merasa gerah dengan sikap politik Caroll Senduk.
Salah satu aktivis sekaligus simpatisan PDIP Jefry Sorongan mengatakan, seandainya Caroll Senduk diganti Bart Senduk kemunginan besar PDIP akan sangat kuat di daerah Tomohon dan menjadi basis terbesar banteng moncong putih.
“Kalau analisis saya, pembatalan Caroll Senduk itu sudah normatif. Mereka bisa lolos dengan satu syarat. Pilkada tidak pakai undang–undang. Tanpa menggunakan CS ikut kompetisi. Tapi kalau pakai UU Caroll Senduk (CS) nonton dari luar. Itu logika hukumnya,” tutus Sorongan.
Dikonfirmasi terpisah, salah satu petinggi PDIP Sulut mengatakan, Ketua DPD Olly Dondokambey sebenarnya sudah mewanti-wanti jauh-jauh hari. Hanya saja Olly serba tidak enak untuk mengganti figur lain.
“OD penyayang kader. Sudah dibahas dalam rapat DPD waktu lalu. Beliau marah tapi tidak enak ganti figur. Cuma kader-kader ini yang tidak tahu diri dan merasa benar,” jawab politisi PDIP Sulut yang meminta namanya tidak diumbar. (Danz).
























