Caption: Vecky Gandey dan Romel Kewo
Manado, SwaraKawanua.ID-Pernyataan Vecky Gandey sempat bekeng gaduh situasi partai Demokrat di Sulut. Padahal Gandey tidak punya kapasitas apa-apa di partai Demokrat. Itu menyusul statment Gandey yang meminta dukungan ketua-ketua DPC PD se-Sulut terkait pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat. Padahal Gandey tak layak dan tida membicarakan KLB Demokrat.
Tak pelak, statment Gandey disambut sesama rekannya di partai Demokrat. Ketua Demokrat Kelurahan Winangun Dua Romel Kewo mengatakan, Vecky Gandey hanya bikin malu diri sendiri.
“Vecky Gandey itu sapa? Dia anggota biasa mar mulu rupa petinggi DPP. Apa kapasitas dia bicara KLB?” sindir Romel Kewo kepada wartawan di Manado, Kamis (25/2/2021).
Menurut Romel, pernyataan dan gerakan yang sedang dilakukan Gandey, tak perlu ditanggapi serius Partai Demokrat di daerah ini.
“Sekali lagi dia itu anggota biasa. Kelasnya, cuma rupa torang, pengurus kelurahan lah,” sindirnya lagi.
Romel mengatakan tidak sepantasnya Gandey memperkeruh suasana Partai Demokrat. Apalagi saat ini Partai Demokrat di Sulawesi Utara sangat kondusif.
“Setahu kami DPD Sulut dan seluruh DPC se Sulut solid memberikan dukungan kepada AHY sebagai ketua umum. Dan itu fakta,” tegasnya.
Selain Romel, reaksi juga datang dari Ketua Kelurahan Mahakeret Barat Ricky Leonardo yang menyatakan bahwa seluruh kader masih solid saat ini.
“Kami tetap solid di belakang AHY, apalagi survey AHY melejit diperingkat dua calon peresiden. Kalau ada oknum-oknum yang tidak senang dengan pencapaian ini, maka jangan heran muncul orang seperti Vecky Gandey. Orang yang notabene sudah bukan pengurus, menjadi penyusup dan berkeinginan merusak citra Demokrat,” seloroh Ricky.
Kader partai hingga tingkat kelurahan menurutnya akan terus mendukung AHY sebagai Ketum Partai Demokrat.
Mereka tidak akan terpengaruh dengan isu murahan apalagi hanya digerakan oleh oknum-oknum yang sudah dipecat dari kepengurusan partai.
“Ini sifat orang yang terlalu banyak main dua kaki. Kami berharap mereka yang sudah tidak pengurus jangan lagi mengusik partai kami. Mar kalau mo coba-coba, coba jo dulu pa torang,” tantang Ricky.
Sebelumnya, lewat salah satu media online Vecky Gandey yang mengaku sebagai Koordinator Gerakan Menyelamatkan Anggaran Dasar Partai Demokrat (GMAD-PD) Sulawesi Utara (Sulut), menggerakan gerakan agar dilakukan KLB.
Gerakan ini muncul, katanya, sebagai tanggapan atas absensi pertanggungjawaban AD/ART PD pada Kongres Luar Biasa (KLB) 15 Maret 2020 silam.
KLB yang kemudian melahirkan Ketua Umum DPP PD Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) itu dianggap cacat karena tidak sesuai dengan AD/ART.
Vecky Gandey menjelaskan, ada dua mekanisme partai yang tidak dipenuhi saat KLB 2019 silam.
Pertama, mestinya saat KLB ada laporan pertanggungjawaban pengurus yang lama. Lalu penyampaian program partai ke depan.
“Tapi ternyata memilih dan menetapkan AHY sebagai Ketum DPP PD. Padahal pertanggungjawaban dan penyampaian program itu diatur dalam anggaran dasar. Dari situ sudah kelihatan cacat hukum,” ujar Gandey, Rabu (23/2/2021) malam di Manado.
Kedua, setelah terpilih, DPP menandatangani anggaran dasar (AD/ART) di waktu yang sama yakni 15 Maret 2020. AD/ART itu ditandatangani oleh AHY dan Sekretaris Jenderal DPP PD H Teuku Riefky Harsha BSc.
“Ini kan lucu. Kan waktu KLB baru Ketua Umum yang terpilih. Belum Sekjen. Tapi kenapa di AD/ART yang diedarkan, sudah ditandatangani oleh Ketum dan Sekjen. Kan Sekjen-nya belum ada. Jadi kami menganggap AD/ART yang dibuat DPP itu cacat hukum,” jelas anggota Demokrat dengan nomor KTA 125030620000378 itu.





















