Manado, SwaraKawanua-Pelaksanaan Kongres Luar Biasa (KLB) partai Demokrat yang digelar di Sumatera Utara (Sumut) dari tanggal 5-7 Maret 2021, mulai dibuka satu per satu oleh peserta kongres.
Salah satunya adalah peserta kongres asal Sulut dari DPC Kota Kotamobagu. Gerald Piter Runtuthomas yang memegang jabatan Wakil Ketua DPC Demokrat Kota Kotamobagu ini, merupakan salah satu peserta kongres yang kecewa akan kegiatan KLB tersebut. Peserta ini akhirnya menyampaikan blak-blakan pelaksanaan kegiatan KLB di Sumut karena kecewa dan terlebih hajatan itu ilegal alias abal-abal.
Peserta kongres ini buka mulut ke publik karena diiming-iming uang 100 juta sebagai peserta kongres. Tapi ternyata uang 100 juta tidak direalisasikan oleh pihak pelaksana KLB.
Peserta KLB ini mengaku bahwa dirinya mengikuti kegiatan kongres awalnya dihubungi oleh salah satu kader Demokrat Sulut yang sudah dipecat oleh partai yakni Vecky Gandey.
Vecky Gandey awalnya menghunginya melalui komunikasi WA. Selanjutnya menghubunginya sampai dua kali dan menawarkan uang 100 juta sebagai peserta kongres dengan menamai gerbong KLB yakni Moeldoko.

Selanjutnya peserta kongres itu mengatakan kepada Gandey bahwa jabatannya adalah wakil ketua DPC Demokrat Kota Kotamobagu sehingga tidak punya kapasitas sebagai pemegang mendat hak suara.
Namun karena diajak oleh Gandey dengan tawaran uang (doi, red) yang cukup besar yakni 100 juta sehingga dia akhirnya luluh dan mengikuti ajakan KLB di Sumut. Dengan syarat kata Vecky Ganday, saat tiba di lokasi Kongres akan diberikan uang 25 persen dari 100 juta yakni 25 juta.
Tapi, hingga kegiatan kongres berakhir, dia dan peserta lainnya tidak mendapatkan uang yang dijanjikan tersebut. Jangankan 100 juta, 25 juta pun tidak didapatinya sebagaimana yang sudah dijanjikan Vecky Gandey sebelumnya.
Tak pelak, mereka pun naik pitam, karena sudah akan balik ke daerah asal. Karena belum mendapatkan sepeserpun uang, padahal hajatan kongres sudah finish dan Moeldoko sudah dinobatkan sebagai Ketum terpilih Demokrat.

Sontak saja, peserta kongres dari DPC Kota Kotamobagu ini kemudian menuntut uang 100 juta yang dijanjikan mengikuti kongres untuk memilih Moeldoko sebagai Ketua Umum (Ketum) Demokrat menggantikan Agus. H. Yudhoyono (AHY).
Selain dia, peserta kongres asal Maluku dan Papua juga sudah mengamuk sebelumnya di lokasi KLB, karena janji uang 100 juta sebagai peserta kongres hanya sebatas isapan jempol semata saja.
Dan akhirnya mereka ditenangkan dan diberikan uang. Namun uang yang diterima bukannya 100 juta ataupun 25 juta tapi hanya ‘rampah-rampah campur’ alias Rp 5 juta. Dan uang itu bukan dikasih oleh Vecky Gandey sebagai koordinator wilayah Sulut.
Tapi diserahkan oleh mantan Bendahara Umum Demokrat yakni Nazarudin. “Saya terima uang 5 juta dari pak Nazarudin,” akuhnya dalam tayangan video heboh tersebut.
Namun karena dianggap terlalu kecil dan sudah berkorban bahkan mengorbankan jabatannya. Sehingga dia kembali ditambah uang 5 juta menjadi 10 juta. Sehingga total dibawa pulang 10 juta dari janji awal 100 juta.
Menurutnya, kegiatan KlB partai Demokrat di Sumut sama sekali tidak mengikuti mekanisme partai yang ada yakni AD/ART partai. “Dalam forum KLB, saya disuruh tandatangani surat pernyataan sebanyak 3 kali,” katanya.
Surat pertama katanya, menyatakan mendukung Moeldoko, kemudian disusul surat kedua disuruh membatalkan surat pertama. Selanjutnya, surat ketiga disuruh kembali menandatangani pernyataan mendukung Moeldoko sebagai ketum partai Demokrat
. “Semua proses KLB tidak sesuai mekanisme partai dan AD/ART. Kongres hanya dibuat asal-asalan dan yang memimpin sidang pak Johni Allen,” jelasnya.
Karena itu, dia meminta kepada Menkumham untuk membatalkan KLB Sumut karena tidak sesuai AD/ART partai. Dia juga menyampaikan permohonan maaf atas kesalahannya kepada Ketum AHY, ketua DPC Demokrat Kota Kotamobagu dan Ketua DPD Demokrat Sulut, Mor Bastian. (dns)






















